•  
  •  
 

Abstract

The intellectual, architectural, and artifactual heritage of the Palembang Darussalam Sultanate during the reign of Sultan Mahmud Badaruddin II (1767–1852) is examined in this study using a historical archaeological approach and textual analysis of manuscripts, buildings, and royal tombstones. This study assumes that Palembang functions as a political force and a centre of Islamic-Malay knowledge. The results show that the Palembang palace functioned as an epistemic space that combined religious understanding (tafaqquh fi al-dīn) and Islamic nobility, as evidenced by religious works such as the Syair Burung Nuri and legal documents (piyagêm) written in the Palembang script. The architecture of the Palembang Grand Mosque and the Kuto Besak Palace combines Islamic cosmological symbolism with local aesthetics and influences from various cultures. Meanwhile, places like Benteng Sungai Aur and the Kawah Tengkurep tomb complex demonstrate the close relationship between spirituality and defence tactics, making these places dynamic environments of Islamization. Historically, SMB II is depicted as a symbol of resistance against colonialism and the protector of Islamic civilisation, upholding morality, art, and science amidst imperialist pressure. This study shows that the heroism of SMB II was not only material but also spiritual. This is a type of archaeological power that uses faith, knowledge, and cultural legitimacy to maintain Islamic civilisation in the Nusantara.

Bahasa Abstract

Warisan intelektual, arsitektur, dan artefak yang dimiliki oleh Kesultanan Palembang Darussalam selama pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II (1767–1852) diteliti dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan arkeologi sejarah dan analisis tekstual manuskrip, bangunan, dan nisan kerajaan. Studi ini mengambil asumsi bahwa Palembang berfungsi sebagai kekuatan politik dan pusat pengetahuan Islam-Melayu. Hasilnya menunjukkan bahwa istana Palembang berfungsi sebagai ruang epistemik yang menggabungkan tafaqquh fi al-dīn dan kebangsawanan Islam, seperti yang ditunjukkan oleh karya keagamaan seperti Syair Burung Nuri dan dokumen hukum piyagêm yang ditulis dalam aksara Jawa lagam Palembang. Arsitektur Masjid Agung Palembang dan Keraton Kuto Besak menggabungkan simbolisme kosmologis Islam dengan estetika lokal dan pengaruh dari berbagai budaya. Sementara itu, tempat-tempat seperti Benteng Sungai Aur dan kompleks makam Kawah Tengkurep menunjukkan hubungan erat antara spiritualitas dan taktik pertahanan, yang menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai lingkungan Islamisasi yang dinamis. Dalam sejarah, SMB II digambarkan sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan pelindung peradaban Islam yang mempertahankan moralitas, seni, dan ilmu di tengah tekanan imperialis. Studi ini menunjukkan bahwa kepahlawanan SMB II tidak hanya bersifat material tetapi juga spiritual. Ini adalah jenis kekuasaan arkeologi yang menggunakan iman, pengetahuan, dan legitimasi budaya untuk mempertahankan peradaban Islam di Nusantara.

References

Abdullah, Taufik. 1986. “Beberapa Aspek Perkembangan Islam di Palembang”, dalam Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan. Editor by K.H.O. Gadjahnata dan Sri Edi Swasono. Depok: UI Press.

______.1996. Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Akbar, Akbar. 2022. “Arkeologi Islam Nusantara”, dalam Islam Nusantara: Journal for the Study of Islamic History and Culture, Volume III, Number 1, January. Jakarta: Fakultan Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA).

Aly, Salman. 1986. “Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam”, dalam Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan. Editor by K.H.O. Gadjahnata dan Sri Edi Swasono. Depok: UI Press.

Amilda dan Suryana, Sri. 2021. “Kawah Tengkurep: Representasi Kebhinekaan Kesultanan Palembang Darussalam Kajian Etnografi terhadap Ragam Hias Nisan di Komplek Makam Kawah Tengkurep”. Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam 21, no. 2: 113123. Palembang: Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Raden Fatah. 

Andhifani, Wahyu Rizky. 2025. Relasi Kuasa Dan Konstruksi Identitas Kesultanan Palembang Darussalam berdasarkan Piyagêm Abad XVII–XIX. Disertasi, Universitas Indonesia.

Bruinessen, Martin van. 1992. “Tarekat dan Politik: Amalan untuk Dunia atau Akhirat?”. Dalam Majalah Pesantren IX, no. 1. 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2015. Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia: Akar Historis dan Awal Pembentukan Islam, Jilid I. Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Farida. 2007. “Konflik Politik di Kesultanan Palembang (18041821)”. Jurnal Sejarah Lontar 14, no. 2: 15–23. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta. 

Ikram, Achadiati. 2004. “Sejarah Palembang dan Sastranya” dalam Jati Diri yang Terlupakan: Naskah-Naskah Palembang, Jakarta: Yayasan Naskah Nusantara (YANASSA).

Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Nawiyanto dan Endrayadi, Eko Crys. 2016. Kesultanan Palembang Darussalam  Darussalam-Sejarah Dan Warisan Budayanya. Cetakan Pertama. Jember: Jember University Press dan Tarutama Nusantara. 

R.A., Mohd. Umar. 1980. Risalah sejarah perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II. Tim Perumus Hasil-Hasil Diskusi Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II, Biro Bina Mental Spiritual Setwilda (Sekretariat Wilayah Daerah) Provinsi Sumatera Selatan.

Rahim, Husni. 1998. Sistem Otoritas dan Administrasi Islam: Studi tentang Pejabat Agama Masa Kesultanan dan Kolonial di Palembang. Jakarta: Logos.

Rochmiatun, Endang. 2017. “Bukti-Bukti Proses Islamisasi di Kesultanan Palembang”, dalam Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam 17, no. 1. Pelembang: Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Negeri Raden Fatah.

Santun, Dedi Irwanto Muhammad. 2010. Venesia dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang dari Kolonial sampai Pascakolonial. Yogyakarta: Ombak.

Sevenhoven, J. L. Van. 1971. Lukisan Tentang Ibukota Palembang. Jakarta: Bhratara.

Steenbrink, Karel A. 1984. Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19. Jakarta: Bulan Bintang.

Tim Penyusun. 1983/1984. Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sumatra Selatan. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Utomo, Bambang Budi. 1993. “Sistem Pertahanan Sungai di Palembang pada Masa Kesultanan”. Amerta, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi  13: 39–48. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. https://ejournal.brin.go.id/amerta/article/view/15208. 

Wasino dan Endah Sri Hartatik. 2018. Metode Penelitian Sejarah: dari Riset hingga Penulisan. Magnum Pustaka Utama.

Woelders, M.O. 1975. Het Sultanaat Palembang 1811-1825. Leiden: ‘S-Gravenhage-Martinus Nijhoff.

Share

COinS