Abstract
This article examines the transformation of Kidung Artati from the Merapi–Merbabu milieu into the version preserved in Serat Kidungan compiled by Ranggasutrasna in the Surakarta court. The study aims to trace the process of textual transmission and ideological transformation that occurred when a kidung originating in an ascetic milieu was incorporated into a later courtly literary context. The sources used in this research consist of Kidung Artati and Kidung Rumeksa Ing Wengi from the Merapi–Merbabu manuscripts, as well as the Ranggasutrasna version of Serat Kidungan. The method applied is textual criticism and comparative textual analysis in order to identify similarities, modifications, and additions between the texts. The results show that the transmission into the court tradition, the text underwent processes of abbreviation, modification, and expansion. This transformation reflects not merely textual transmission but a broader cultural shift from the ascetic mandala milieu to the Islamic courtly environment of Surakarta. The study demonstrates that the Merapi–Merbabu tradition served as an important source for later courtly literary production and that the transformation of Kidung Artati illustrates the dynamic interaction between peripheral textual traditions and courtly cultural authority in Javanese literary history.
Bahasa Abstract
Artikel ini mengkaji transformasi Kidung Artati dari lingkungan Merapi–Merbabu ke dalam versi yang tersimpan dalam Serat Kidungan yang disusun oleh Ranggasutrasna di lingkungan Keraton Surakarta. Penelitian ini bertujuan menelusuri proses transmisi tekstual serta transformasi ideologis yang terjadi ketika sebuah kidung yang berasal dari lingkungan asketik dimasukkan ke dalam konteks kesusastraan keraton pada masa kemudian. Sumber yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Kidung Artati dan Kidung Rumeksa Ing Wengi dari naskah-naskah Merapi–Merbabu, serta versi Serat Kidungan karya Ranggasutrasna. Metode yang digunakan adalah kritik teks dan analisis perbandingan teks untuk mengidentifikasi persamaan, perubahan, dan penambahan di antara teks-teks tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses transmisinya ke dalam tradisi keraton, teks tersebut mengalami proses pemendekan, modifikasi, dan perluasan. Transformasi ini tidak hanya mencerminkan proses transmisi tekstual, tetapi juga menunjukkan pergeseran budaya yang lebih luas dari lingkungan asketik di mandala menuju lingkungan Islam di Keraton Surakarta. Penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Merapi–Merbabu menjadi sumber penting bagi produksi sastra keraton pada masa kemudian dan transformasi Kidung Artati menggambarkan interaksi dinamis antara tradisi tekstual periferal dan otoritas budaya keraton dalam sejarah kesusastraan Jawa.
References
Arps, B. 1996. The Song Guarding at Night: Grounds for cogency in a Javanese incantation.” In: Stephen C. Headley (ed.). Towards an anthropology of prayer: Javanese ethnolinguistic studies / Vers une anthropologie de la prière: études ethnolinguistiques javanaises, pp. 47–113. Aix-en-Provence: Publications de l’Université de Provence.
_____. 2007. Dewa Ruci and The Light that is Muhammad: The Islamization of a Buddhist text in the Yasadipuran version of the Book of Dewa Ruci. Pantheisme - Manunggaling Kawula Lan Gusti Dalam Naskah Nusantara, 1–39.
Behrend, T. E. 1993. Manuscript production in nineteenth-century Java; Codicology and the writing of Javanese literary history. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde, 149(3), 407–437.
Behrend, T. E. 2023. Catatan Penelitian: Daftar tembang dalam Naskah Jawa [Unpublished].
Callenfels, P. V. van S. 1925. De Sudamala in de Hindu-Javaansche Kunst (Verhandelingen van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen Vol. 66). s’Hage & Batavia: M. Nijhoff & Albrecht & Co.
Dellios, R. 2003. Mandala: From sacred origins to sovereign affairs in traditional Southeast Asia. Centre for East-West Cultural and Economic Studies, 10.
Geertz, C. 2013. Agama Jawa: Abangan, santri, priyayi dalam kebudayaan Jawa (A. Mahasin & B. Rasuanto, Trans.). Depok: Komunitas Bambu.
Gericke, J. F. C., & Roorda, T. 1901. Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek. Leiden: E. J. Brill.
Hadiwidjojo. 1956. Kalidjaga. Kaha Solo. https://www.sastra.org/agama-dan-kepercayaan/kebatinan-dan-mistik/821-kalijaga-hadiwidjojo-1956-554 (accessed 11 Januari 2026)
Jafar, H. 2009. Masa Akhir Majapahit: Girīndrawarddhana dan Masalahnya. Depok: Komunitas Bambu.
Kartika Setyawati. 2015. Kidung Surajaya: Suntingan Teks, Terjemahan dan Analisis Makna Isi Teks [PhD Thesis]. Universiteit Leiden.
Kriswanto, A. 2012. Gita Sinangsaya: Edisi teks dan terjemahan. Jakarta: Perpustakaan Nasional.
Molen, W. van der. 2011. Kritik Teks Jawa, sebuah pemandangan umum dan pendekatan baru yang diterapkan kepada Kunjarakarna. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Noorduyn, J. 1982. Bujangga Manik’s journeys through Java: Topographical data from an Old Sundanese source. Bijdragen Tot de Taal-, Land-En Volkenkunde, 138, 413–442.
Pigeaud, Th. G. 1960. Java in the Fourteenth Century Vol. 3. The Hague: Martinus NijHoff.
Poerbatjaraka, R. Ng. 1957. Kapustakan Djawi. Djakarta: Djambatan.
Prijono. 1938. Sri Tañjung, een Oud Javaansch verhaal. ’s-Gravenhage: N.V de Nederlandsche Boek-en Steendrukkerijk v.h. H.L. Smits.
Ranggasutrasna. 1929. Serat Kidungan. Kediri: Tan Koen Swi. https://www.sastra.org/agama-dan-kepercayaan/kebatinan-dan-mistik/1097-kidungan-ranggasutrasna-1929-594 last accessed January 11, 2026
Ras, J. J. 2014. Masyarakat dan Kesusastraan di Jawa. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Ricklefs, M. C. 2006. Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the Early Nineteenth Centuries. Norwalk: EastBridge.
Ricklefs, M. C. 2013. Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya 1930–Sekarang. Jakarta: Serambi.
Robson, S. O. 1979. Notes on the early Kidung literature. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde, 135 (2/3), Article 2/3.
Santiko, H. 2012. Agama dan Pendidikan Agama Pada Masa Majapahit. Amerta, Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi 3, No. 2.
Serat Kidungan. 1956. Surakarta: H. Buning. https://www.sastra.org/agama-dan kepercayaan/wulang/2297-kidungan-h-buning-c-1915-90 last accessed January 11, 2026
Setyawati, K., Wiryamartana, K., & Molen, W. van der. 2002. Katalog Naskah Merapi-Merbabu Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Tanaya, R. 1965. Kidungan Ingkang Djangkep. Solo: Sadu Budi.
Wiryamartana, I. K. 1990. Arjunawiwaha Transformasi Teks Jawa Kuna lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Wiryamartana, I. K., & Molen, W. van der. 2001. The Merapi-Merbabu manuscripts. A neglected collection. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde, 157(1), 51–64.
Zoetmulder, P. J. 1983. Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
Recommended Citation
Kriswanto, Agung, and I Made Suparta. 2026. FROM MANDALA TO PALACE: THE TRANSFORMATION OF KIDUNG ARTATI INTO RANGGASUTRASNA VERSION OF SERAT KIDUNGAN FROM THE SURAKARTA. Paradigma: Jurnal Kajian Budaya 16, no. 2 (August). 10.17510/paradigma.v16i2.2029.
Included in
Archaeological Anthropology Commons, Art and Design Commons, Fine Arts Commons, History Commons, Library and Information Science Commons, Linguistics Commons, Philosophy Commons
