•  
  •  
 

Abstract

Javanese literary works, especially the Panji tales, often feature human characters with animal names, such as Kuda Narawangsa, Kebo Kanigara, and Kidangwalangka. This naming phenomenon can also be found in old Javanese inscriptions. Recent studies generally concluded that such naming tradition occurred during the Kadiri-Majapahit era, and this was closely related to the banner of the army and the identity of makasirkasir. This study aims to reveal the motivation behind the naming tradition and the relationship between personal name, social status, and occupation of the person so named throughout the ancient Javanese era. This study uses Nyström’s onomastical approach, especially the concept of anthroponomics, namely the presuppositional meanings of proper names consisting of categorial, associative, and emotive meanings. This research utilized archaeological methods which involved data collection, data processing, and interpretation. Results show that this naming phenomenon was generally motivated by people’s appreciation of certain animals that had a special place and played an important role in the ancient Javanese society and culture. The correlation between the names and the characters’ social status and occupation has been found to be influenced by the sociocultural development during the Ancient Mataram and Kadiri-Majapahit periods.

Bahasa Abstract

Karya sastra Jawa Kuno, terutama cerita-cerita Panji, memuat nama diri karakter yang berasal dari nama binatang, seperti Kuda Narawangsa, Kebo Kanigara, dan Kidangwalangka. Fenomena penamaan itu juga ditemukan dalam isi prasasti masa Jawa Kuno. Studi-studi terakhir pada umumnya berkesimpulan bahwa tradisi penamaan yang berlangsung pada masa Kadiri-Majapahit itu berkaitan erat dengan panji-panjian ketentaraan dan identitas makasirkasir. Penelitian ini berupaya mengungkap motivasi penamaan serta hubungan antara nama diri, status sosial, dan jabatan penyandangnya pada masa Jawa Kuno. Penelitian ini menggunakan pendekatan onomastika Nyström, khususnya mengenai antroponomastika, yaitu konsep makna presuppositional nama, yang terdiri dari makna kategorial, asosiatif, dan emotif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian arkeologi yang meliputi tahap pengumpulan data, pengolahan data, dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena penamaan itu secara umum dilatarbelakangi oleh apresiasi pada binatang tertentu yang memiliki kedudukan dan peran dalam kebudayaan masyarakat sehingga dianggap penting dan istimewa. Kecenderungan hubungan nama dengan status sosial dan jabatan tertentu sesuai dengan perbedaaan perkembangan fenomena pada periode Mataram Kuno dan Kadiri- Majapahit.

Share

COinS