•  
  •  
 

Abstract

This article report the study of traditional dance in Siguntur Dharmasraya, West Sumatra. Marhasnida, a cultural activist from Nagari Siguntur, created the toga dance. This article explains how the dance was created, developed, and performed from stage to stage and passed on to the younger generation for preservation. This historical research observed and analyzed the actions of an individual closely related to the development of toga dance. Data were obtained through observation, interviews, and tracing of personal archives pertaining to various aspects of the dance, including its history and movements. This research found (1) that Marhasnida has been involved in the preservation of toga dance since 1990; (2) that toga dance has been performed in various local, national, and international performances; and (3) that toga dance preservation involves educational institutions and students at the school where Marhasnida teaches, which also serves as a forum for fostering young dancers who will preserve the dance. Findings indicate that traditional activities are not only preserved and passed on to the millennials by formal institutions established by the government, but also by an individual who is also a local activist and culture expert. However, this study also shows that the involvement of formal institutions such as schools is quite effective for attracting young talents to preserve and practice regional arts. However, not all art activists are teachers and have access to formal education. For this reason, an educational curriculum that can stimulate actions to explore cultural values and local wisdom by providing flexibility for teachers to create, innovate, and collaborate with practitioners is a commendable measure.

Bahasa Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang kesenian tari tradisional dari Siguntur Dharmasraya Sumatera Barat. Tari Toga diciptakan oleh Marhasnida, seorang penggiat kebudayaan dari Nagari Siguntur. Artikel ini menjelaskan bagaimana Tari Toga diciptakan, dikembangkan, dipentaskan dari panggung ke panggung dan diwariskan kepada generasi muda untuk menjaga eksistensinya. Artikel ini merupakan sebuah penelitian sejarah yang berfokus pada aktivitas seorang tokoh. Sumber data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan penelusuran arsip pribadi tokoh yang berkaitan dengan kiprah dan aktivitas yang berkaitan dengan Tari Toga. Artikel ini menemukan bahwa (1) Marhasnida telah berkecimpung dalam pelestarian dan pewarisan Tari Toga sejak 1990 hingga sekarang. (2) Tari Toga telah dipentaskan dalam berbagai pertunjukan lokal, nasional dan internasional (3) Pelestraian Tari Toga melibatkan institusi pendidikan dan murid sekolah tempat Marhasnida mengajar menjadi wadah pembinaan penari muda yang akan melestarikan dan menjaga eksistensi Tari Toga. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas pelestarian dan pewarisan kesenial tradisional tidak bertumpu pada institusi formal yang dibentuk oleh pemerintah namun berasal dari seorang tokoh yang menjadi aktivis dan penggiat seni yang berasal dari daerah. Meski demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa keterlibatan institusi formal seperti sekolah cukup efektif dalam menjaring bakat-bakat muda dalam upaya pelestarian dan pewarisan kesenian daerah. Hanya saja tidak semua aktivis seni punya posisi sebagai guru dan punya akses ke pendidikan formal. Untuk itu, kurikulum Pendidikan yang bisa mewadahi upaya eksplorasi nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal dengan cara memberikan kebebasan bagi guru dalam berkreativitas, berinovasi serta berkolaborasi dengan praktisi menjadi sebuah langkah yang harus tetap didukung.

References

Arif, Muhammad. 2011. Pengantar Kajian Sejarah. Bandung: Yrama Wdya.

Angraeni, Reny. 2019. Biografi Ibu Munasiah Nadjamuddin Sebagai Seniman Tari di Makassar. Tesis, Universitas Negeri Makassar.

Azzahrah, Fatimah, dkk. 2017. Revitalisasi Tari Sigeh Penguten Melalui Pendidikan Seni Budaya di SMP Negeri 1 Tanjung Raya Kabupaten Mesuji. CATHARSIS 6 , no. 1: 38-48. doi: https://doi.org/10.15294/catharsis.v6i1.17030

Duija, I Nengah. 2005. Tradisi Lisan, Naskah, dan Sejarah: Sebuah Catatan Politik Kebudayaan. WACANA 7, no. 2: 111–124

Furqon, Arief, Agus Maimun. 2005. Studi Tokoh: Metode Penelitian Mengenai Tokoh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Haluan. Tari Togah Siguntua di Padang. 1 November 1990.

Indrayuda. 2013. Popularitas Tari Piring sebagai Identitas Budaya Minangkabau. Panggung 23, no. 3: 270–280.

Kania R.S. 2015. Peranan Sanggar Tari Kaloka Terhadap Perkembangan Tari di Kota Pekalongan. Skripsi, Universitas Negeri Semarang.

Khutniah, Nainul dan Veronica Eny Iryanti. 2012. Upaya Mempertahankan Eksistensi Tari Kridha Jati di Sanggar Hayu Budaya Kelurahan Pengkol Jepara. Jurnal Seni Tari 1, no. 1: 9–21.

Mussarofa, Ita. 2019. Biarkan Perempuan Bicara: Analisis Kekuatan Metode Life History dalam Menghadirkan Pengalaman dan Pengetahuan Perempuan dalam Penelitian Ann Goetting. SAWWA: Jurnal Studi Gender 14, no. 1: 85–108.

Nugroho, Luqman Fajar. 2016. Peranan Sanggar Seni Santi Dalam Pelestarian Budaya Tradisional dan Sebagai Wahana Pendidikan Seni Budaya Kelas 8 SMPN 4 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2015/2016. Jurnal CANDI 13, no. 2: 147–166.

Ratih, Endang Kumala dan Setyo Yanuartuti. 2020. Kreativitas Tri Broto Wibisono sebagai Seniman Tari Jawa Timur. Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, vol 4, no. 2: 173–184.

Refisrul, dkk. 2012. Bunga Rampi Budaya Sumatera Barat Budaya Masyarakat Minangkabau: Seni, Teknologi Tradisional, dan Hubungan Antar Budaya. Padang: BPSNT Padang Press.

Refisrul. 2017. Tari Toga dan Pewarisannya di Nagari Siguntur Kabupaten Dharmasraya. Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, no.1: 691–708.

Rusliana, I. 1990. Pendidikan Seni Tari. Jakarta: Depdikbud.

Sari, Noviyana. 2016. Pengaruh Penggunaan Metode Drill Terhadap Hasil Belajar Akuntansi Kelas X Semester Genap SMK Negeri 1 Metro Tahun pelajaran 2015/2016. Jurnal Pendidikan Ekonomi UM 4, no.2: 69–77.

Sufyan, Fikrul Hanif. 2015. Antara Mitos dan Realitas: Kerajaan Siguntur dalam Kajian Historiografi Tradisional dan Warisan Budayanya. Dicetak dalam buku Kerajaan Minangkabau dalam Pusaran Badai Zaman. Padang: UPTD Museum Adityawarman.

Tempo.co. 2008. Kerajaan Siguntur Minta Peninggalan Kerajaan di Pindahkan ke Dharmasraya.https://nasional.tempo.co/read/116520/kerajaan-siguntur-minta-peninggalan-kerajaan-dipindahkan-ke-dharmasraya.(Diakses 11 Juni 2021, 22: 01 WIB).

Wawancara, Marhasnida, 15, 16, 20 Februari 2022.

Wawancara, Mira Idora, 14 Februari 2022.

Wawancara, Silvi RS, 15 Februari 2022

Share

COinS