•  
  •  
 

Abstract

This article discusses the sacredness of Teong Negeri in the life of the indigenous people in Maluku. Teong Negeri is seen as a symbol of the customary state in Central Maluku, among others, Negeri Haya, Hatu, Tehua and Wassu and has a function in maintaining the socio-cultural network. the four states of Pela Gandong Negeri Haya, Hatu, Tehua and Wassu use Teong Negeri as a daily greeting. It can be seen that Teong Negeri is a sacred symbol for the four states of pela gandong because in addition to being a symbol of identity that is able to integrate each other, but also a symbol of respect for ancestors. Based on research data related to the results of the interview Teong Negeri has to do with the history of the establishment of the state, in the life of indigenous people in Wassu state known as Teong Erihatu Samasuru, Haya state known as teong Nakajarimau, Hatu state known as Teong Silalou and Tehua state by the name of Teong Lounusa Amalatu. Ethnographic qualitative research methods are used to obtain in-depth field findings data, based on the informants' understanding of Teong Negeri as a sacred identity for the people of central Maluku in maintaining the cultural network (Islamic-Christian relations) during and after the conflict. So based on the findings, it can be seen that Teong Negeri is able to provide spirit capital for the entire community to keep alive the cultural provisions in the life of indigenous people in Central Maluku.

Bahasa Abstract

Artikel ini membahas sakralitas Teong Negeri dalam kehidupan masyarakat adat di Maluku. Teong Negeri dilihat sebagai simbol negeri adat di Maluku Tengah, antara lain Negeri Haya, Hatu, Tehua, dan Wassu serta memiliki fungsi dalam menjaga jejaring sosio- kultural. Keempat negeri pela gandong: Haya, Hatu, Tehua, dan Wassu menggunakan Teong Negeri sebagai sapaan sehari-hari. Dapat dilihat bahwa Teong Negeri merupakan simbol sakral bagi keempat negeri pela gandong karena, selain menjadi simbol identitas yang mampu mengintegrasi sesama, juga menjadi simbol penghargaan kepada leluhur. Berdasarkan data penelitian yang bersumber dalam hasil wawancara, Teong Negeri memiliki kaitan dengan sejarah berdirinya negeri, dalam kehidupan masyarakat adat di Negeri Wassu yang dikenal dengan nama Teong Erihatu Samasuru, Negeri Haya yang dikenal dengan nama Teong Nakajarimau, Negeri Hatu yang dikenal dengan nama Teong Silalou, dan Negeri Tehua dengan nama Teong Lounusa Amalatu. Metode penelitian kualitatif etnografis digunakan untuk memperoleh data terperinci di lapangan, dan berdasarkan pemahaman para informan, Teong Negeri menjadi identitas sakral bagi masyarakat Maluku Tengah dalam menjaga jejaring kultural (relasi Islam-Kristen) sewaktu dan sesudah konflik. Dengan demikian, berdasarkan hasil temuan dapat dilihat bahwa Teong Negeri mampu memberikan modal spirit bagi seluruh masyarakat agar tetap menghidupkan pranata budaya dalam kehidupan masyarakat adat di Maluku Tengah.

References

Bartels, Diether. Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku: Muslim-Kristen Hidup Berdampingan di Maluku Tengah. Jilid I. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2017.

Castells, Manuell. The Power of Identity: United Kingdom. 2nd ed. with a New Preface. Malden Ma: Willey Blackwell, 2010.

Creswell, W. John. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

Durkheim, Emile. The Division of Labour In Society. London: Macmillian Press, 1984.

Durkheim, Emile. The Elementary Form of The Religious Life, Sejarah Bentuk-Bentuk Agama yang paling Dasar. Jogjakarta: Ircisod, 2011.

Eliade, Mircea. Sakral Dan Profan. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002.

Hutubessy, Fred Keith. “Pergerakan Sakralitas-Nasionalisme Papua: Pola Pergerakan Aliansi Mahasiswa

Papua dalam Ruang Solidaritas di Yogyakarta”. Mozaik Humaiora 19, no. 1 [2019]: 26–36. Izak Y. M. Lattu. “Orality And Interreligious Relationship: The Role of Collective Memory in Christian Muslim

Engagements in Maluku, Indonesia”. Disertasi, Universitas Berkeley, 2014. Cooley, Frank. L, Mimbar dan Takhta. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987.

Oita, Stevanus. “Yang Kotor Yang Menyucikan: Sakralitas Darah Mensturasi Perempuan dalam Jejaring Kultural (Pela) di Maluku.” Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan 7, no. 1 [2019]: 21–42.

Pariela, Tonny D. Damai di Tengah Konflik Maluku. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana Press, 2008.

Parsons, Talcott. System Socia. USA: Macmillan Company, 1951.

Pelupessy, Pieter J. Esuriun Orang Bati. Disertasi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 2012.

Qurtuby, Sumanto Al. Islam dan Kristen Dinamika Pascakonflik dan Masa Depan Perdamaian di Ambon. bJakarta: Bpk Gunung Mulia, 2018.

Ruhulessin, John C. Etika Publik: Menggali dari Tradisi Pela di Maluku. Salatiga: Disertasi, Universitas SatyaWacana, Salatiga, 2005.

Salakory, Revaldo Pravasta Julian Mb. Teong Negeri: Sentralitas Folklore Nama Lokal Komunitas dalam Jejaring Sosio-Kultural Islam Kristen di Maluku. Tesis, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 2020.

Widayat, Rahmanu. “Krobongan Ruang Sakral Rumah Tradisi Jawa.” Dimensi Interior 2, no. 1 [Juni 2004]:1– 21.

Share

COinS