Abstract
This article examines the Constítutíonal Court (MK) Decisíon No. 146/PUU–XXII/2024 which rejected the request to delete the religion column on the Identity Card (KTP). The Decision affirms that every Indonesian citizen must declare their religion or belief in God as expected by Pancasila and the constitutional mandate. The Constitutional Court stated that “not having a religion or belief in God cannot be considered as freedom of religion”. The Constitutional Court Decision has revived the dispute on the urgency of including religion identity on the KTP, especially about the relation between administrative requirements, the legal system of Indonesia, and protection of human rights. Through normative juridical research with a conceptual approach and case approach, this article seeks to analyze the legal reasoning of the Constitutional Court and examine its compatibility with constitutional principles and human rights norms, mainly the right to freedom of religion or belief. The findings of this article indicate that the legal considerations and the operative part of the Decision are not achieved a reasonable balance between the administrative interests and the protection of the right to freedom of religion or belief. Based on the principle of freedom of religion or belief, the state should guarantee protection for all humans to freely adhere to a religion or belief of their choice, including the right not to affiliate with any religion or belief. Accordingly, this article takes a different position with the Decision and advances a counterargument aimed at providing a balanced solution to the legal issue, enabling the objectives of state administration to be achieved without compromising the protection of the right to freedom of religion or belief.
Bahasa Abstract
Artikel ini akan membahas Putusan Mahkamah Konstítusi (MK) No. 146/PUU-XXII/2024 yang menolak permohonan penghapusan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP). Putusan a quo menegaskan bahwa setiap warga negara Indonesia harus menyatakan memeluk agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana diharapkan oleh Pancasila dan amanat konstitusi. MK menyatakan bahwa "tidak beragama atau tidak menganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat dinilai sebagai kebebasan beragama". Putusan MK tersebut telah menghidupkan kembali perdebatan mengenai urgensi pencantuman agama pada KTP, khususnya mengenai hubungan antara kebutuhan administrasi, sistem hukum di Indonesia, dan perlindungan hak asasi manusia. Melalui penelitian yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan pendekatan kasus, penelitian ini akan mencoba menganalisis pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi serta menguji kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip konstitusional dan hak asasi manusia, utamanya hak kebebasan beragama atau berkeyakinan. Hasil kajian dalam artikel ini menunjukkan bahwa pertimbangan hukum putusan a quo belum memberikan keseimbangan yang rasional antara kebutuhan administrasi dengan perlindungan terhadap hak kebebasan beragama atau berkeyakinan. Berdasarkan prinsip kebebasan beragama atau berkeyakinan, negara seharusnya memberikan jaminan perlindungan bagi semua manusia untuk bebas memeluk agama atau keyakinan tertentu, termasuk hak untuk tidak berafiliasi dengan agama tau keyakinan tertentu. Oleh karena itu, artikel ini mengambil posisi yang berbeda dengan putusan a quo dengan memberikan kontra-argumentasi yang diharapkan dapat menjadi jalan tengah mengenai isu hukum tersebut, sehingga tujuan dari administrasi negara tetap dapat dicapai tanpa perlu mengorbankan perlindungan terhadap hak kebebasan beragama atau berkeyakinan.
References
Buku
Aprita, Serlika dan Yonani Hasyim. Hukum dan Hak Asasi Manusia. Jakarta: Mitra Wacana Media, 2020.
Gesmi, Irwan dan Yun Hendri. Pendidikan Pancasila. Cet. 1. Ponorogo: Uwais Inspirasi, 2018.
Ghanea, Nazila dan Neni Indriati Wetlesen. “Pengantar.” Dalam Tore Lindholm, dkk (ed), Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan: Seberapa Jauh? Sebuah Referensi tentang Prinsip-Prinsip dan Praktek. Ed. 1. Jakarta: Kanisius, 2010.
Kaelan. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma, 2014.
Kholiludin, Tedi. Kuasa Negara Atas Agama: Politik Pengakuan, Diskursus “Agama Resmi” dan Diskriminasi Hak Sipil. Semarang: RaSAIL Media Group, 2009.
Kurnia, Titon Slamet. Interpretasi Hak-Hak Asasi Manusia Oleh Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia the Jimly Court 2003-2008. Bandung: Mandar Maju, 2018.
Kurnia, Titon Slamet. Konstitusi HAM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.
Notonagoro. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila: Pengertian Inti-Isi-Mutlak daripada Pancasila Dasar Falsafah Negara, Pokok Pangkal Pelaksanaan Secara Murni dan Konsekwen. Jakarta: Pancuran Tujuh, 1980.
Sholahudin, Umar. “HAM Pancasila: Partikularisme HAM Keindonesiaan.” Dalam Al Khanif (ed), Pancasila Sebagai Realitas: Percik Pemikiran Tentang Pancasila & Isu-isu Kontemporer di Indonesia. Cet. 1. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016.
Smith, Rhona K.M. Et al. Hukum Hak Asasi Manusia. Yogyakarta: PUSHAM UII, 2008.
Sulaiman, King Faisal. Teori dan Hukum Konstitusi. Bandung: Nusa Media, 2017.
Artikel
As’ad, Muhammad. “Ahmadiyah and the Freedom of Religion in Indonesia.” Journal of Indonesian Islam. Vol. 3. No. 2 (2009). Hlm. 390-413.
Ayub, Zainal Amin. Et al. “Freedom of Religion and Belief Under Supreme Court Verdict Study Case on Supreme Court Decision Number 17/P/HUM/2021.” Jurnal Hukum dan Peradilan. Vol. 12. No. 1 (2023). Hlm. 1-28.
Bagir, Zainal Abidin. Et al. “Limitations to Freedom of Religion or Belief in Indonesia: Norms and Practices.” Religion and Human Rights. Vol. 15 (2022). Hlm. 39-56.
Budiyono. “Politik Hukum Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan di Indonesia.” Yustisia. Vol. 2. No. 2 (2013). Hlm. 108-119.
Burlian, Paisol. “Pemikiran Soekarno Dalam Perumusan Pancasila.” Jurnal Hukum Doctrinal. Vol. 5. No. 2 (2022). Hlm. 143-169.
Cornelius, Conrado M. “Menafsirkan Pancasila: Wewenang Pemerintah atau Peran Warga Negara? Suatu Telaah Dari Perspektif Hermeneutika Kritis Habermasian.” Mimbar Hukum. Vol. 33. No. 2 (2021). Hlm. 320-345.
Hasanah, Uswatun dan Aan Budianto. “Pemikiran Soekarno Dalam Perumusan Pancasila,” Jurnal CANDI, Vol. 20, No. 2 (2020). Hlm. 31-54.
Juanda, Enju. “Eksistensi Hak Asasi Manusia dan Alternatif Penyelesaian Atas Pelanggarannya Dalam Negara Hukum Republik Indonesia.” Jurnal Ilmiah Galuh Justisi. Vol. 8. No. 1 (2020). Hlm. 98-108.
Karibi, Rhoda Asikia Ige Nee. “Religion, Human Rights and The Challenges of Freedom.” Jurnal Ilmiah Peuradeun: International Multidisciplinary Journal. Vol. 3. No. 1 (2015). Hlm. 39-54.
Kurnia, Titon Slamet dan Ninon Melatyugra. “Universality of Rights as An Interpretive Principle for the Indonesian Constitusional Court.” Constitutional Review. Vol. 10. No. 2 (2024). Hlm. 474-504.
Matompo, Osgar S. “Pembatasan Terhadap Hak Asasi Manusia Dalam Prespektif Keadaan Darurat.” Jurnal Media Hukum. Vol. 21. No. 1 (2014). Hlm. 57-72.
Melatyugra, Ninon dan Umbu Rauta. “Menggali Makna Negara Hukum Pancasila.” Jurnal Majelis. Edisi 03 (2020). Hlm. 149-176.
Mendrofa, Otniel Ogamota. “Pembatasan Kebebasan Beragama Berdasarkan Teori Keadilan dan Hak Asasi Manusia.” Milthree Law Journal. Vol. 1. No. 1 (2024). Hlm. 30-61.
Mudhofir, Ali, “Nilai, Martabat dan Hak-Hak Asasi Manusia,” Jurnal Filsafat. Seri 12 (1992). Hlm. 23-27.
Mujaddidi, Sipghotulloh. “Konstitusionalitas Pembatasan Hak Asasi Manusia dalam Putusan Mahkamah Konstitusi.” Jurnal Konstitusi. Vol. 18. No. 3 (2021). Hlm. 540-607.
Nainggolan, Yossa A.P. “Hak Atas Kebebasan Beragama dan/atau Berkeyakinan: Forum Internum dan Forum Eksternum.” Jurnal HAM. Vol. 6. No. 6 (2010). Hlm. 68-83.
Noer, Kautsar Azhari. “Spiritualitas dan Hak Asasi Manusia.” Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin. Vol. 3. No. 1 (2017). Hlm. 130-144.
Pangestu, Indah Sri Dwi Yuliani, dan Hertaty Dorothy Dewi Siburian. “Rekonstruksi Mekanisme Seleksi Hakim Konstitusi di Indonesia.” Jurnal Hukum & Demokrasi. Vol. 5. No. 2 (2025). Hlm. 106-123.
Prayogo, Bagus Edi. “Pros and Cons of Removing the Religion Column in Indonesian Identity Cards (Analysis of the Impact and Regulation on Human Rights).” Contemporary Issues on Interfaith Law and Society. Vol. 1. Issue 2 (2022). Hlm. 131-156.
Putri, Novita Akria. “Penghapusan Kolom Agama Dalam Kartu Tanda Penduduk.” Mizan: Jurnal Ilmu Syariah. Vol. 3, No. 2 (2015). Hlm. 277-284.
Rellang, A, Kamilah, dan Nazaruddin. “Penggunaan Prinsip Hak Asasi Manusia Untuk Menyelesaikan Konflik Agama Di Indonesia: Pandangan Hukum Nasional Dan Islam.” Jurnal Al-Ahkam: Jurnal Hukum Pidana Islam. Vol. 6. No. 1 (2024). Hlm. 33-44.
Singer, Joseph William. “Normative Methods for Lawyer.” UCLA Law Review. 56 (2009). Hlm. 1-92.
Sodikin. “Hukum dan Hak Kebebasan Beragama.” Jurnal Cita Hukum. Vol. 1. No. 2 (2013). Hlm. 175-186.
Sugiarto, Laga dan Riski Febria Nurita. “Pandangan Negara Integralistik sebagai Dasar Philosofische Grondslag Negara Indonesia.” Jurnal Cakrawala Hukum. Vol. 9. No. 1 (2018). Hlm. 59-67.
Surlan, Tijana. “Freedom of Religion and the Legal Status of Churches: A Case Study from the Serbian Constitutional Court.” Studies in Church History. Vol. 56 (2020). Hlm. 487-507.
Syafi’ie, M. “Ambiguitas Hak Kebebasan Beragama di Indonesia dan Posisinya Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi.” Jurnal Konstitusi. Vol. 8. No. 5 (2011). Hlm. 675-706.
Tohawi, Agus dan Triyo Ambodo. “Human Rights and Religious Freedom in the Context of National Law in Indonesia.” International Journal of Health, Econimics, and Social Sciences (IJHESS). Vol. 6. No. 2 (2024). Hlm. 578-586.
Wauran, Indirani. “Pancasila Sebagai Sumber Dari Segala Sumber Hukum: Haruskah Dituangkan Dalam Pasal-Pasal UUD 1945.” Jurnal Majelis. Edisi 03 (2020). Hlm. 1-26.
Naskah Kajian
Huda, Ni’matul. Et al. “Gagasan Kewenangan Pengaduan Konstitusional dan Desain Kelembagaannya di Mahkamah Konstitusi,” naskah kajian disajikan oleh Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dengan Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) FH UII, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, 2025.
Skripsi
Ahmad, Nabil Ali. “Perlindungan Hukum Atas Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Indonesia: Studi Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.” Skripsi Sarjana Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2022.
Dewa, Teguh Triesna. “Konsekuensi Yuridis Pengosongan Identitas Agama Pada Kartu Tanda Penduduk Terhada (Hak Konstitusional Warga Negara Untuk Mendapat Pelayanan Publik.” (Skripsi Sarjana Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2017.
Putra, Dio Mandala. “Perlindungan Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Indonesia Menurut Universal Declaration of Human Rights Tahun 1948.” Skripsi Sarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Riau, Pekanbaru, 2019.
Putusan Pengadilan
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Putusan No. 146/PUU-XXII/2024, Raymond Kamil, dkk. (Pemohon) (2025).
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Tentang Perkawinan. UU Nomor 1 Tahun 1974. LN Tahun 1974 No. 1 TLN No. 3019.
Undang-Undang Tentang Hak Asasi Manusia. UU Nomor 39 Tahun 1999. LN Tahun 1999 No. 165 TLN No. 3886.
Undang-Undang Tentang Administrasi Kependudukan. UU Nomor 23 Tahun 2006. LN Tahun 2006 No. 124 TLN No. 4674, sebagaimana diubah terakhir oleh UU Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006. LN Tahun 2013 No. 232 TLN No. 5475.
Undang-Undang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Administrasi Kependudukan Nomor 23 Tahun 2006. UU Nomor 24 Tahun 2013. LN Tahun 2013 No. 232 TLN No. 5475.
Perjanjian Internasional
Universal Declaration of Human Rights (diadopsi pada 10 Desember 1948) Resolution 217A (III).
International Covenant on Civil and Political Rights (diadopsi pada 16 Desember 1966, mulai berlaku 23 Maret 1976) 999 UNTS 171.
Dokumen Organisasi Internasional
United Nations, Human Rights Committee. “General comment adopted by the Human Rights Committee under article 40, paragraph 4, of the International Covenant on Civil and Political Rights/ General comment no. 22 (48) (article 18), Freedom of Thought, Conscience or Religion.” Geneva: UN Headquarters, 1993.
Bahan Berita
Arif, Syaiful. “Pancasila dan Polemik Kewajiban Beragama,” Kompas Data, 18 Januari 2025, tersedia pada https://data.kompas.id/artikel-detail/679040fc8b6e74b4fa1cab0a?query=kolom%20agama&subject&datefrom&dateto&author&publication&typesearch=0&size=10&collection&page¤tpage=2&orderdirection, diakses pada 26 Mei 2025.
BBC Indonesia. “MK tolak hapus kolom agama dari KTP - Bagaimana rasanya hidup sebagai agnostik dan ateis di Indonesia?,” BBC News Indonesia, 6 Januari 2025, tersedia pada https://www.bbc.com/indonesia/articles/c75wp95qz0eo, diakses pada 28 Mei 2025.
Human Rights in Aotearoa. “Freedom of Religion and Belief,” Te Kāhui Tika Tangata Human Rights Commission, tersedia pada https://tikatangata.org.nz/human-rights-in-aotearoa/freedom-of-religion-and-belief, diakses pada 25 Mei 2025.
International Panel of Parliamentarians for Freedom of Religion or Belief. “What is Freedom of Religion or Belief?,” IPPFORB, tersedia pada https://ippforb.com/what-we-do/toolkit/what-is-freedom-of-religion-or-belief/, diakses pada 25 Mei 2025.
Kumalasanti, Susana Rita. “Indonesia Berketuhanan, MK Pun Enggan Hapus Kolom Agama di KTP dan KK,” Kompas, 3 Januari 2025, tersedia pada https://www.kompas.id/artikel/indonesia-bangsa-ber-ketuhanan-mk-enggan-hapus-kolom-agama-di-ktp-dan-kk?open_from=Search_Result_Page, diakses pada 26 Mei 2025.
Latuharhary, Kabar. “Memahami Hak Beragama dan Berkeyakinan,” Komnas HAM RI, 21 Oktober 2021, tersedia pada, https://www.komnasham.go.id/index.php/news/2021/10/21/1950/memahami-hak-beragama-dan-berkeyakinan.html#:~:text=Kabar%20Latuharhary%20%E2%80%93%20Kebebasan%20beragama%20dan,HAM)%20yang%20dilindungi%20oleh%20negara., diakses pada 30 April 2025.
MacDonald, Alex. “Turkey ditches religion from IDs as it eyes EU membership,” Middle East Eye, 17 Februari 2016, tersedia pada https://www.middleeasteye.net/news/turkey-ditches-religion-ids-it-eyes-eu-membership, diakses pada 26 Juni 2026.
Nasar, M Fuad. “Kebebasan Beragama, Perspektif Konstitusi,” Kementerian Agama RI, 16 Januari 2025, tersedia pada https://kemenag.go.id/opini/kebebasan-beragama-perspektif-konstitusi-Cv0Uo, diakses pada 28 April 2025.
OpenDoors. “Turkey: Religion removed from ID cards (but not completely),” OpenDoors, 29 Maret 2016, tersedia pada https://www.opendoors.org/en-US/research-reports/articles/stories/turkey-religion-removed-from-id-cards-but-not-completely/, diakses pada 12 Juni 2026.
Perchoc, Philippe. “Freedom of Conscience Around the World,” European Parliament, November 2019, tersedia pada https://www.europarl.europa.eu/RegData/etudes/BRIE/2019/642277/EPRS_BRI(2019)642277_EN.pdf, diakses pada 11 April 2026.
Santoso, Rengga Yudha. “Pancasila dan Pluralisme Spiritual: Ruang Bagi "Bertuhan Tanpa Agama" dan "Beragama Tanpa Tuhan" di Indonesia,” Kompasiana, 8 Juli 2024, tersedia pada https://www.kompasiana.com/renggayudhasantoso9734/668b62f6c925c444b135bc52/pancasila-dan-pluralisme-spiritual-ruang-bagi-bertuhan-tanpa-agama-dan-beragama-tanpa-tuhan-di-indonesia?page=1&page_images=1, diakses pada 31 Mei 2025.
Saraswati, Anak Agung Ayu Nanda. “Dilarang Bangun Rumah Ibadat? Tempuh Langkah Ini,” Hukumonline, 8 Juli 2022, tersedia pada https://www.hukumonline.com/klinik/a/dilarang-bangun-rumah-ibadat-tempuh-langkah-ini-lt62c7df19860ab/, diakses pada 25 Mei 2025.
Taylorian, Brandon Reece. “Discriminatory State Practices Involving National Identity Documents with Impacts on Religious Freedom,” BYU Law International Center for Law and Religion Studies, 20 Mei 2025, tersedia pada https://talkabout.iclrs.org/2025/05/20/discriminatory-state-practices-involving-national-identity-documents/, diakses pada 12 Juni 2026.
Recommended Citation
Purwopangestu, Krisna Bagas and Simeone, Nicholas Gerard Felix
(2026)
"Penolakan Penghapusan Kolom Agama Pada Kartu Tanda Penduduk: Krítík Terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 146/PUU-XXII/2024,"
Jurnal Konstitusi & Demokrasi: Vol. 6:
No.
1, Article 3.
DOI: 10.7454/JKD.v6i1.1603
Available at:
https://scholarhub.ui.ac.id/jurnalkonsdem/vol6/iss1/3