•  
  •  
 

Abstract

The principle of checks and balances is closely related to the principle of separation of powers in the constitutional system, which in its development, the application of checks and balances emphasizes the importance of mutual control relationships between various branches of state administration, including within the scope of the judicial system. If in the legal justice system in the context of judicial power, the application of the principle of checks and balances is not new – that is through supervision by the House of Representatives (DPR) which is authorized to propose changes to the Supreme Court law and external supervision by the Judicial Commission (KY) on the behavior of judges according to the Code of Ethics-, therefore, the application of the principle of checks and balances should also be a concern in the ethical justice system. Considering, nowadays, the judicial system does not only include the legal justice system (Court of Law) but also includes the ethical justice system (Court of Ethics). For this reason, this paper examines the application of the principle of checks and balances in the ethical justice system, especially in the ethical justice system which still applies closed ethical trials, namely the Honorary Council of the DPR (MKD), the Honorary Council of Judges (MKH) and the Honorary Council of the Constitutional Court (MKMK). By knowing and paying attention to the application of the principle of checks and balances in the ethical justice system, it is hoped that the development of the ethical justice system (Court of Ethics) and the Court of Law will be implemented.

Bahasa Abstract

Prinsip check and balances erat kaitannya dengan prinsip pemisahan kekuasaan dalam sistem ketatanegaraan, yang mana dalam perkembangannya, penerapan checks and balances menekankan pada penting adanya hubungan saling mengendalikan antara berbagai cabang penyelenggara negara, termasuk dalam lingkup sistem peradilan. Jika dalam sistem peradilan hukum pada konteks kekuasaan kehakiman penerapan prinsip checks and balances bukanlah hal yang baru -yaitu dilakukan melalui pengawasan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang diberi kewenangan mengusulkan perubahan terhadap undang-undang Mahkamah Agung dan pengawasan eksternal oleh Komisi Yudisial (KY) terhadap perilaku Hakim sesuai Kode Etik-, maka, penerapan prinsip checks and balances ini seharusnya juga menjadi perhatian dalam sistem peradilan etik. Mengingat, dewasa ini, sistem peradilan tidak hanya meliputi sistem peradilan hukum (Court of Law) namun juga meliputi sistem peradilan etika (Court of Ethics). Untuk itu, makalah ini mengkaji terkait penerapan prinsip check and balances dalam sistem peradilan etik khususnya pada sistem peradilan etik yang masih menerapkan persidangan etik secara tertutup yaitu di Majelis Kehormatan DPR (MKD), Majelis Kehormatan Hakim (MKH) dan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK). Dengan diketahui dan diperhatikannya penerapan prinsip check and balances dalam sistem peradilan etik tersebut, diharapkan dapat semakin mengimplementasi beriringannya pengembangan sistem peradilan etika (Court of Ethics) dengan sistem peradilan hukum (Court of Law).

References

Buku

Bowie, Norman E., dan Patricia Houge Werhane, Management Ethics, Malden, MA: Blackwell Publishing, 2005, Galvin Library.

Black Law Dictionarry By Henry Campbel, (St. Paul: West Publishing Co., 1990).

Crince le Roy, Kekuasaan ke-empat Pengenalan Ulang, diterjemahkan oleh Soehardjo, Semarang: Yayasan Dharma Bakti, 1981.

Ethics and Politics: Case and Comments, Chicago: Nelson-Hall Publishers, 1990.

Haryatmoho, Etika Publik untuk Integritas Pejabat Publik & Politisi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011.

Ismail Rumadan. Problematika Pelaksanaan Kekuasaan Kehakiman, Jurnal Hukum dan Peradilan, Vol. 3, No.3, 3 Nopember 2014.

Jimly Asshiddiqie, Peradilan Etik dan Etika Konstitusi, Jakarta: Snar Grafika, 2015.

______________, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jakarta: Rajawali Pers, 2016.

John A. Garvey dan T. Alexander Aleinikoff, Modern Constitutional Theory, West Publishing Co, 1994.

Komisi Yudisial. Mengenal Lebih Dekat Komisi Yudisial. Jakarta: Komisi Yudisial Republik Indonesia, 2012.

Kunungi and Martha Schweitz, Codes of Conduct for Partnership in Governance Text’s and Commentaries, Edited by Tatsuro, Tokyo, Japan: The United Nation University, 1999.

Moh Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Pusat Study HTN, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 1998.

Robert Weissberg, Understanding American Government, New York: Holt Rinehart and Winston, 1979, hal. 35.

Shimon Shetreet, J. Deschenes (eds), Judicial Independence: New Conceptual Dimentions and Contemporary Challenges, Netherlands: Martinus Nijhoff Publishe,. 1985. Dikutip dalam Cetak Biru Pembaruan Mahkamah Agung, (2003), Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Utrecht, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Ichtiar Baru, Jakarta, 1990.

Peraturan

Republik Indonesia, Mahkamah Agung, Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 (Lembaran Negara Th. 1985 No. 73, Tambahan Lembaran Negara No. 3316), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 (Lembaran Negara Th. 2009 No. 03, Tambahan Lembaran Negara No. 4958).

Republik Indonesia, Komisi Yudisial, Undang-Undang No. 22 Tahun 2004 (Lembaran Negara Th. 2004 No. 89, Tambahan Lembaran Negara No. 4415), sebagaimana diubah dengan

Undang-Undang No. 18 Tahun 20019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 (Lembaran Negara Th. 2011 No. 106, Tambahan Lembaran Negara No. 5250).

Republik Indonesia, Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009, (LN No. 157 Tahun 2009; TLN No. 5076).

Republik Indonesia, Mahkamah Konstitusi, Undang-Undang No. 8 Tahun 2011 (Lembaran Negara Th. 2011 No. 70, Tambahan Lembaran Negara No. 5226), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 (Lembaran Negara Th. 2020 No. 216, Tambahan Lembaran Negara No. 6554).

Republik Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Undang-Undang No. 17 Tahun 2014 (Lembaran Negara Th. 2014 No. 182, Tambahan Lembaran Negara No. 5568), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 13 Tahun 2019 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 20l4 (Lembaran Negara Th. 2019 No. 181, Tambahan Lembaran Negara No. 6396).

Republik Indonesia, Pedoman Penyusunan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota, Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2018 (Lembaran Negara Th. 2018 No. 59, Tambahan Lembaran Negara No. 6197).

Dewan Perwakilan Rakyat RI, Tata Beracara Mahkamah Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat, Peraturan DPR No. 2 Tahun 2015.

Dewan Perwakilan Rakyat RI, Kode Etik Dewan Perwakilan Rakyat, Peraturan DPR No. 1 Tahun 2015.

Majelis Permusyawaratan Rakyat RI, Peraturan Kode Etik Majelis Permusyawaratan Rakyat, Keputusan MPR RI No. 2/MPR/2010.

Dewan Perwakilan Daerah RI, Tata Tertib, Peraturan DPD No. 2 Tahun 2019.

Dewan Perwakilan Daerah RI, Tata beracara Badan Kehormatan, Peraturan DPD No. 5 Tahun 2017.

Dewan Perwakilan Daerah RI, Kode Etik DPD, Peraturan DPD No. 2 Tahun 2018.

Mahkamah Konstitusi RI, Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi, Peraturam Mahkamah Konstitusi No. 2 Tahun 2014.

Mahkamah Konstitusi RI, Mekanisme Kerja dan Tata Cara Pemeriksaan Laporan dan Informasi, Peraturan Dewan Etik Hakim Konstitusi No. 1 Tahun 2014.

Mahkamah Konstitusi RI, Pemberlakuan Deklarasi Kode Etik dan Perilaku Hakim Konstitusi (Sapta Karsa Hutama), Peraturan Mahkamah Konstitusi No. 09/PMK/2006.

Komisi Yudisial RI, Penanganan Laporan Masyarakat, Peraturan Komisi Yudisial No. 2 Tahun 2015.

Mahkamah Agung RI, Pedoman Penanganan Pengaduan (whistleblowing System) di Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya, Peraturan Mahkamah Agung No. 9 Tahun 2016.

Komisi Yudisial RI dan Mahkamah Agung RI, Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, Keputusan Bersama Ketua Komisi Yudisial RI dan Ketua Mahkamah Agung RI No. 02/SKB/P.KY/IV/2009 dan No. 047/KMA/SKB/IV/2009.

Komisi Yudisial RI dan Mahkamah Agung RI, Panduan Penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, Peraturan Bersama Ketua Komisi Yudisial RI dan Ketua Mahkamah Agung RI No. 02/SKB/P.KY/IV/2012 dan No. 047/KMA/SKB/IV/2012.

Komisi Yudisial RI dan Mahkamah Agung RI, Tata Cara Pembentukan, Tata Kerja dan Tata Cara Pengambilan Keputusan Majelis Kehormatan Hakim, Peraturan Bersama Ketua Komisi Yudisial dan Ketua Mahkamah Agung No. 04/SKB/P.KY/IX/2012 dan No. 04/KMA/SKB/IX/2012.

Internet

Ervan Bayu, Berita: Ini Rekomendasi Konferensi Nasional Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, tanggal 02 Juni 2017, https://www.gatra.com/detail/news/266415-ini-isirekomendasi-konferensi-nasional-etika-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara, diakses tanggal 28 Mei 2021.

Keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi, Website Resmi Mahkamah Konstitusi, https://www.mkri.id/index.php?page=web.PutusanMKMK&pages=1&menu=2, diakses tanggal 4 Juni 2021.

Muhammad Ridwan, Hanya 11 dari 52 Rekomendasi KY yang Ditindaklanjuti MA,

https://www.jawapos.com/nasional/01/01/2021/hanya-11-dari-52-rekomendasi-ky-yangditindaklanjuti-ma/, tanggal 01 Januari 2021, diakses tanggal 12 Juni 2021.

Putra Ananda, Berita: MPR Pertimbangkan Bentuk Lembaga Kode Etik Nasional, tanggal 10 November 2020, https://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum/359707/mprpertimbangkan-bentuk-lembaga-kode-etik-nasional, diakses tanggal 28 Mei 2021.

Sukma Violetta dalam Simposium Internasional Terkait Batasan Antara Teknis Yudisial Dengan Pelanggaran Perilaku Hakim, di Gedung Komisi Yudisial tanggal 10 November 2016,

https://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum/76712/ky-gelar-simposiuminternasional.html di akses tanggal 04 Juni 2021.

Share

COinS