•  
  •  
 

Abstract

The "Backstage" film is an Indonesian film that addresses the issue of beauty privilege wrapped in a drama genre. Beauty privilege often occurs in Indonesia, creating injustices in society. This film tells the story of two siblings pursuing their careers, but injustice occurs in terms of popularity due to the differences in appearance between Sandra and Elsa. The problem lies in the difference in treatment they receive based on their conformity to beauty standards. This study aims is to understand and analyze the meaning of beauty privilege as perceived by the audience after watching the film "Backstage". The theories used in this study are mass media theory, film theory, and reception analysis. This study employs a descriptive qualitative method using Stuart Hall's reception analysis. The data collection techniques used in this study are semi-structured interviews with five informants and observations. The research results indicate that four informants are categorized in the dominant-hegemonic position, one informant in the negotiated position, and no informants are categorized in the oppositional position. According to the informants, the "Backstage" film has well-represented the issue of beauty privilege, but one informant felt that the film's plot is still difficult to understand.

Bahasa Abstract

Film Backstage merupakan film Indonesia yang mengangkat isu beauty privilege dibalut dengan genre drama. Beauty privilege kerap terjadi di Indonesia sehingga menciptakan ketidakadilan dalam masyarakat. Film ini menceritakan tentang dua orang kakak beradik yang mengejar karirnya, namun terjadi ketidakadilan dalam hal popularitas dikarenakan oleh perbedaan paras antara Sandra dan Elsa. Permasalahan ini berada pada perbedaan perlakuan yang didapatkan dari paras yang sesuai standar kecantikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisa pemaknaan beauty privilege yang diterima oleh penonton setelah menonton film Backstage. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori media massa, film, dan analisis resepsi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan analisis resepsi dari Struat Hall. Dalam penelitian ini, Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan wawancara semi-struktur dengan 5 narasumber dan observasi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa empat narasumber dikategorikan dalam dominant – hegemonic position, satu narasumber dikategorikan dalam negotiated position dan tidak ada narasumber yang dikategorikan dalam oppositional position. Menurut narasumber film Backstage sudah merepresentasikan isu beauty privilege dengan baik, namun terdapat satu narasumber merasa film ini memiliki plot yang masih sulit dimengerti.

References

Anartia, N., Amaretha, R., Meltareza, R., Soekarno, J., No, H., 448 Batununggal, B., Kidul, K., Bandung, J., & Barat, I. (2024). Analisis Perspektif Influencer Pada Beauty Privilege Dalam Sosial Media Instagram. 2(1), 27–40. https://doi.org/10.47861/tuturan.v2i1.679

Asri, R., Al, U., Indonesia, A., Masjid, K., Al Azhar, A., & Baru, K. (2020). Membaca Film Sebagai Sebuah Teks: Analisis Isi Film “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI).” In Jurnal Al Azhar Indonesia Seri Ilmu Sosial (Vol. 1, Issue 2).

Diputra, R., & Nuraeni, Y. (2022). ANALISIS SEMIOTIKA DAN PESAN MORAL PADA FILM IMPERFECT 2019 KARYA ERNEST PRAKASA.

Fadhilah, A., Mutia Kharisma, D., & Asyahidda, F. N. (2023). ANALISIS FENOMENA “BEAUTY PRIVILEGE” DALAM STATUS SOSIAL SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (STUDI KASUS SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KOTA BANDUNG). In Journal Jurnal Pendidikan Sosiologi Undiksha Jurusan Sejarah, Sosiologi dan Perpustakaan (Vol. 5).

Ghassani, A., & Nugroho, C. (2019). PEMAKNAAN RASISME DALAM FILM (ANALISIS RESEPSI FILM GET OUT). 18(2), 127–134.

Kustiawan, W., Siregar, K., Alwiyah, S., Lubis, R. A., Fatma, Z., Gaja, S., & Pakpahan, N. (n.d.). KOMUNIKASI MASSA. JOURNAL ANALYTICA ISLAMICA, 11(1), 2022. https://www.researchgate.net.ac,id.

Mustofa, M. B., Wuryan, S., Al-Fajar, A., Prihartini, A., Salsabila, R., Dini, O., Universitas, S., Negeri, I., Intan, R., & Bisrimustofa@radenintan, L. (2022). At Tawasul: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam FUNGSI KOMUNIKASI MASSA DALAM FILM. http://jurnal.iuqibogor.ac.id

Pertiwi, M., Ri’aeni, I., & Yusron, A. (2020). Analisis Resepsi Interpretasi Penonton terhadap Konflik Keluarga dalam Film “Dua Garis Biru.” Jurnal Audiens, 1(1). https://doi.org/10.18196/ja.1101

PwC Indonesia, & LPEM FEB UI. (n.d.). The Economic Impact of the Screen Industry in Indonesia - an opportunity.

Rijal Fadli, M. (2021). Memahami desain metode penelitian kualitatif. 21(1), 33–54. https://doi.org/10.21831/hum.v21i1

Roro, R., Astu, N., Program, K., Komunikasi, S. I., Ilmu, F., Bisnis, A., & Komunikasi, I. (2023). Analisis Resepsi Kekerasan Seksual pada Perempuan dalam Film Penyalin Cahaya. In JURNAL INTERACT (Vol. 12, Issue 2). http://ojs.atmajaya.ac.id/index.php/fiabikom/index

Sitasi ; Intan, C., Mirza, L., & Hayu, R. (2021). Representasi Pesan Moral Dalam Film Tilik (Analisis Semiotik Roland Barthes). 21(2), 142. https://doi.org/10.31294/jc.v19i2

Taruna, M. R., & Permata Sari, R. (2022). Kelas Sosial adalah Segalanya: Bagaimana Penonton Indonesia Memaknai Film “Crazy Rich Asian”? Jurnal Mahasiswa Komunikasi Cantrik, 2(2). https://doi.org/10.20885/cantrik.vol2.iss2.art5

Tempo.co. (2024, February 5). Film-film Indonesia yang Punya Dampak Besar terhadap Ekonomi Industri Layar. Seleb.Tempo.Co. https://seleb.tempo.co/read/1829988/film-film-indonesia-yang-punya-dampak-besar-terhadap-ekonomi-industri-layar

Share

COinS