Abstract

Asma merupakan penyakit kronis yang dapat mengganggu kualitas hidup. Hingga saat ini, jumlah penderita asma semakin meningkat termasuk di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma dan pencetus asma pada anak usia 6 - 14 tahun di Indonesia. Metode penelitian adalah desain potong lintang dengan menggunakan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 di 33 provinsi di Indonesia. Variabel bebas adalah karakteristik responden, faktor lingkungan, dan perilaku merokok anak dan orangtua. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki, kondisi sosial ekonomi rendah, riwayat asma pada orangtua, anak yang merokok atau pernah merokok, dan orangtua yang merokok atau pernah merokok adalah faktor risiko yang berhubungan secara signifikan dengan tinggi kejadian asma pada anak (nilai p < 0,05). Sedangkan variabel yang tidak berhubungan secara bermakna (nilai p > 0,05) adalah usia, kepadatan hunian, bahan bakar memasak, penerangan dalam rumah, dan penanganan sampah. Lima pencetus utama asma pada anak adalah udara dingin, flu dan infeksi, kelelahan, debu, dan asap rokok. Oleh karena itu, orangtua harus mendorong anak untuk bergaya hidup sehat agar anak terhindar dari serangan asma. Asthma is a chronic disease that can disrupt quality of life. Up to now, the number of asthma is more increasing including in Indonesia. This study aimed to identify factors related to the incidence and triggers of asthma among 6 - 14 year-old children in Indonesia. Method of study was cross sectional design using 2013 Basic Health Research data in 33 provinces over Indonesia. Independent variables were characteristics of respondents, environmental factors and smoking behavior of children and parents.The analysis result showed that male sex, low socio-economic status, parental asthma record, children and parental smoking were the risk factors significantly related to the increasing prevalence of asthma incidence among children (p value < 0.05). Meanwhile, age, housing density, cooking fuel, home lighting and waste handling were the other variables significantly not related (p value > 0.05). Five potential triggers of asthma in children are cold weather, flu and infections, fatigue, dust and tobacco smoke. Therefore, parents should encourage their children to get a healthy lifestyle in order to prevent them from asthma attack.

References

1. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan menteri kesehatan RI Nomor 1023/MENKES/SK/XI/2008 tentang pedoman pengendalian penyakit asma. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2009.

2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) 2004: SKRT 2004-Volume 3. Sudut pandang masyarakat mengenai status, cakupan, ketanggapan dan sistem pelayanan kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2005.

3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Riset kesehatan dasar laporan nasional 2007. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2008.

4. Yunus F, Antaria R, Rasmin M, Mangunnegoro H, Jusuf A, Bachtiar A. Asthma prevalence among high school students in East Jakarta, 2001, based on ISAAC questionnaire. Medical Journal of Indonesia. 2003; 12 (3): 178-86.

5. Rosamarlina FY, Dianiati KS. Prevalens asma bronkial berdasarkan kuesioner ISAAC dan perilaku merokok pada siswa SLTP di daerah industri Jakarta Timur. Jurnal Respirologi Indonesia. 2010; 30 (2): 75-84.

6. Yunus F, Rasmin M, Sutoyo DK, Wiyono WH, Antariksa B, Fitriani F, dkk. Prevalens asma pada siswa usia 13-14 tahun berdasarkan kuesioner ISAAC di Jakarta. Jurnal Respirologi Indonesia. 2011; 31 (4): 176- 80.

7. Zulfikar T, Yunus F, Wiyono WH. Prevalens asma berdasarkan kuesioner ISAAC dan hubungan dengan faktor yang mempengaruhi asma pada siswa SLTP di daerah padat penduduk Jakarta Barat tahun 2008. Jurnal Respirologi Indonesia. 2011; 31 (4): 181-92.

8. Global Initiative for Asthma (GINA). Global strategy for asthma management and prevention. 2015 [cited 2015 Jan 23]. Available from: http://www.ginasthma.org/documents/3.

9. Sundaru H. Asma: apa dan bagaimana pengobatannya. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009.

10. Canadian Lung Association [homepage on the internet]. Asthma: asthma treatment. Ottawa; 2015 [cited 2015 Feb 23]. Available from: http://www.lung.ca/lung-health/lung-disease/asthma/treatment.

11. Sihombing M, Alwi Q, Nainggolan O. Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit asma pada usia ≥ 10 tahun di Indonesia (analisis data Riskesdas 2007). Jurnal Respirologi Indonesia. 2010; 30 (2): 85-91.

12. Kartono K. Psikologi anak: psikologi perkembangan. Bandung: Mandar Maju; 2007.

13. Hastono SP. Analisis data kesehatan. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia; 2007.

14. Purnomo. Faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian asma bronkial pada anak (studi kasus di RS Kabupaten Kudus). Semarang: Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro; 2008.

15. Kusuma HMSC, Kalim KH, Muid M. Hubungan antara derajat obstruksi saluran nafas serangan akut asma dengan jumlah sel-sel inflamasi darah tepi. Jurnal Kedokteran Brawijaya. 2004; 20 (3): 142-6.

16. Irawan Y, Windi RR. Perbedaan faktor risiko terjadinya asma bronkial pada pasien dengan asma bronkial dan pasien tanpa asma bronkial di poli anak rawat jalan RSUD DR.H.Andul Moeloek Lampung pada Oktober-Desember 2011. Lampung: Fakultas Kedokteran Universitas Lampung; 2012.

17. Turyk M, Curtis L, Scheff P, Contraras A, Coover L, Hernandez E, et al. Environmental allergens and asthma morbidity in low-income children. Journal of Asthma. 2006; 43(6): 453-7.

18. Oemiati R, Sihombing M, Qomariah. Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit asma di Indonesia. Media Litbang. 2010; 20 (1): 41-9.

19. Hapsari D, Puti S, Supraptini. Hubungan perilaku merokok, aktivitas fisik dan polusi udara indoor dengan penyakit asma pada usia ≥ 15 tahun (analisis data Susenas 2004 & SKRT 2004). Media Litbang Kesehatan. 2008; 18 (1): 16-24.

20. Sole D, Camelo-Nunes IC, Wandalsen GF, Mallozi MC, Naspitz CK, and Group BI’s. Is the prevalence of asthma and related symptoms among Brazilian children related to socioenomic status? Journal of Asthma. 2008; 45(1): 19-25.

21. Hari AE, Roni N, Agung WT. Paparan asap dalam rumah, hewan peliharaan, lingkungan, tempat tinggal dan sosial ekonomi dengan kejadian asma bronkial pada anak. Berita Kedokteran Masyarakat. 2010; 26 (3): 125-31.

22. Laisina AH, Sondakh DT, Wantania JM. Faktor risiko kejadian asma pada anak Sekolah Dasar di Kecamatan Wenang Kota Manado. Sari Pediatri. 2007; 8 (4): 299-304.

23. Bracken MB, Belanger K, Cookson WO, Triche E, Christiani DC, Leaderer BP. Genetic perinatal risk factors for asthma onset and severity: a review and theoretical analysis. Epidemiologic Reviews. 2002; 24 (2): 176-89.

24. Klinnert MD, Price MR, Liu AH, Robinson JL. Unraveling the ecology of risk for aarly childhood asthma among ethnically diverse families in the Southwest. American Journal of Public Health. 2002; 92 (5): 792-8.

25. Paramita OD, Harsoyo N, Setiawan H. Hubungan asma, rinitis alergik, dermatitis atopik dengan IgE spesifik anak usia 6-7 tahun. Sari Pediatri. 2013; 14 (6): 391-7.

26. Siregar SP. Faktor atopi dan asma bronkial pada anak. Sari Pediatri. 2000; 2 (1): 23-8.

27. Global Initiative for Asthma. Global strategy for asthma management and prevention. 2006 [diakses 30 April 2014]. Available from: http://www.ginasthma.org/documents/5/documents_variants/31.

28. Patriani I, Ayuningtyas D. Komunikasi dokter dengan sikap konkordansi pada pasien tuberculosis paru, hipertensi dan asma. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 2013; 8 (2): 51-5.

Share

COinS