Abstract
-
Bahasa Abstract
Indonesia telah membangun ekonomi lebih dari empat dekade. Pada tahun 1968, Indonesia pertama kalinya mencatat pertumbuhan double-digit setelah mengalami pergolakan politik, ekonomi dan sosial di pertengahan tahun 1960-an (Hill 1996: 11). Indonesia memasuki dekade 1970-an dengan fokus pada pembangunan ekonomi. Selama tiga dekade pertama, pembangunan ekonomi disusun dalam rangkaian pembangunan lima tahunan yang dieksplisitkan dalam dokumen perencanaan yang dikenal dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Antara tahun 1969-1994, Indonesia menjalani lima periode Repelita yang juga merupakan periode Pembangunan Jangka Panjang Tahap I (PJPT I). Pembangunan Lima Tahun keenam, untuk periode 1994-1999 sesungguhnya adalah tahap pertama dari PJPT II. Pemerintahan Presiden Suharto berakhir pada tahun 1998, dan setelah itu pemerintahan Presiden Habibie menjadi transisi dari penemuan jati diri bangsa memasuki periode Reformasi. Ketika Repelita tidak lagi dilanjutkan, pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid menetapkan Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004 (Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000) sebagai landasan dan pedoman bagi pemerintah dan penyelenggara negara dalam melaksanakan pembangunan lima tahun, dan pelaksanaannya dilanjutkan oleh Presiden Megawati Sukamoputri. Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menelurkan perencanaan dalam dokumen yang disebut dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dengan durasi lima tahunan. RPJM yang ada saat ini, yaitu untuk periode 2010-2014, merupakan kelanjutan dari RPJM 2004-2009. RPJM itu sendiri sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 mengenai Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 (Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007).
References
Adioetomo, S. M. (2005a). Bonus Demograft: Menjelaskan Hubungan Antara Pertumbuhan Penduduk Dengan Pertumbuhan Ekonomi. Pidato Pengukuhan Guru Besar FEUI. Depok.
Adioetomo, S. M. (2005b). "Reshaping Populations", dalam Hull, T. H. People, Population, and Policy in Indonesia. Singapura: Equinox Publication & ISEAS.
Akita, T. & Alisjahbana, A.S.(2002). Regional Income Inequality in Indonesia and the Initial Impact of the Economic Crisis. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 38(2), 201-222.
Badan Pusat Statistik. (2005). Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik. (2006). Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia Juli 2006. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik. (2007). Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia Maret 2007. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik. (2008). Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia Maret 2008. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik. (2009). Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik. (2010). Berita Resmi Statistik No. 12/02/Th.XIII 10.
Booth, A. (1992). The Oil Boom and After: Indonesian Economic Policy and Performance in the Soeharto Era. Singapura: Oxford University Press.
Brodjonegoro, B. P. S. (2006). Desentralisasi Sebagai Kebijakan Fundamental Untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Mengurangi Kesenjangan Antardaerah di Indonesia. Pidato Pengukuhan Guru Besar FEUI. Depok.
Chenery, H.B. & Syrquin, M. (1975). Patterns of Development 1957-1970. London: Oxford University Press.
Garcia, G. J. & Soelistianingsih, L. (1998). Why Do Differences in Provincial Incomes Persist in Indonesia?. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 34(1), 95-120.
Hill, H. (1996). The Indonesian Economy Since 1966. New York: Cambridge University Press.
Hulu, E. & Hewings, G. J. D.(1993) The Development and Use of Interregional Input-Output Models for Indonesia Under Conditions of Limited Information. Review of Urban and Regional Development Studies, 5, 135-153.
Kuznets, S. (1959). On Comparative Study of Economic Structure and Growth of Nations dalam National Bureau of Economic Research The Comparative Study of Economic Growth and Structure. New York: NBER.
Kuznets, S. (1963). Quantitative Aspects of the Economic Growth of Nations, VIII: Distribution of Income by Size. Economic Development and Cultural Change, 11 (2), 1-80.
Lee, R. & Mason, A. (2006). What is the Demographic Dividend. Finance and Development, 43(3), 16-17.
Mishra, S. C. (2009). "Economic Inequality in Indonesia: Trends, Causes and Policy Response". Mimeo.
Nazara, S. (1999). "Provincial Convergence Within the Neoclassical Growth Theory in Indonesia". Makalah. Ithaca.
Nazara, S. (2006). "The Importance of a Region: Do Other Regions Matter?," dalam Nazara, S., Natural Disasters- Impact and Challenges for Recovery: Economic Aids, Governance, Infrastructure. Proceeding of 7th Indonesian Regional Science Association (!RSA) International Conference. Jakarta.
Nazara, S. (2009). "KEK, Kawasan Produksi atau Tempat Hidup?" Investor Daily, 5.
Oates, W.E. (1972). Fiscal Federalism. New York: Harcourt Brace Jovanovich.
Ohmae, K. (2005). The Next Global Stage. Wharton Schoof Publishing.
Resosudarmo B. P. & Vidyatamma, Y. (2006). Regional Income Disparity in Indonesia: A Panel Data Analysis. ASEAN Economic Bulletin, 23(1), 31-44.
Sen, A. (1999). Development As Freedom. Anchor Books.
Simanjuntak, R. (2007). Desentralisasi Fiskal dan Manajemen Makroekonomi Serta Urgensi Suatu Grand Design di Indonesia. Pidato Pengukuhan Guru Besar FEUI. Depok.
Stimson, R. J., Stough, R.R. & Roberts, B.H. (2006). Regional Economic Development: Analysis and Planning Strategy, 2nd edition. Springer Verlag.
Todaro, M. P. & Smith, C. S. (2008). Economic Development. Pearson.
World Bank (1993). East Asia Miracle: Economic Growth and Public Policy. World Bank Publication.
Yayasan Indonesia Forum. (2007). Visi Indonesia 2030. Jakarta: Yayasan Indonesia Forum.
Recommended Citation
Nazara, Suahasil
(2010)
"Pemerataan Antardaerah sebagai Tantangan Utama Transformasi Struktural Pembangunan Ekonomi Indonesia Masa Depan,"
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia: Vol. 11:
No.
1, Article 6.
DOI: 10.7454/jepi.v11i1.2192
pp.83-98
Available at:
https://scholarhub.ui.ac.id/jepi/vol11/iss1/6





