•  
  •  
 

Abstract

This article examines the comparison of onomatopoeia in Mandarin Chinese and Indonesian in children's literature. The study aims to identify, classify, and compare onomatopoeic forms found in the Mandarin children's story Bǎo Húlú De Mìmì (The Secret of the Magic Gourd) and the Indonesian children's story collection Sehari Satu Dongeng. This research employs a descriptive qualitative approach and a contrastive analysis method. The data were collected through close reading and note-taking techniques, and were analyzed using referential and comparative methods. The classification is based on the source of the represented sounds, namely human sounds, animal sounds, natural phenomena, and object sounds. The findings show that the Mandarin corpus contains 31 onomatopoeic forms, while the Indonesian corpus contains 27 forms. Mandarin onomatopoeia is dominated by object sounds, with 18 data, whereas Indonesian onomatopoeia is dominated by human sounds, with 10 data. These findings indicate that the Mandarin children's story analyzed in this study tends to represent sounds originating from objects, actions, and physical events, while the Indonesian children's stories tend to emphasize sounds related to characters, living beings, and narrative situations. Nevertheless, both languages use onomatopoeia to create concrete auditory impressions and strengthen the expressive quality of children's narratives.

References

Bredin, H. (1996). Onomatopoeia as a Figure and a Linguistic Principle. New Literary History, 27(3), 555–569. http://www.jstor.org/stable/20057371

Institute of Linguistics Chinese Academy of Social Sciences. (2016). Xiandai Hanyu Cidian (7 ed.). The Commercial Press. https://ano-via.github.io/dict/

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2008). (T. R. P. Bahasa, Ed. Edisi Keempat ed.). PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2026). Sehari Satu Dongeng: Kumpulan Dongeng Anak Indonesia Hebat (2 ed.). Pusat Penguatan Karakter, Sekretariat Jenderal, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Li, J. (2006). Xiandai Hanyu Nishengci Yanjiu [Onomatopoeias in Modern Chinese] [Doctoral dissertation, Fudan University].

Lü, S., & Zhu, D. (1952). Yufa Xiuci Jianghua [Talks on Grammar and Rhetoric]. China Youth Publishing Press.

Nurhidayati, S. A., & Mulyadi. (2024). Struktur Semantik Onomatope Bahasa Indonesia Pendekatan Metabahasa Semantik Alami. Semantik: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 13(2), 219-238. https://doi.org/10.22460/semantik.v13i2.p219-238

Qiao, Y. (2016). Onomatopoeia in modern Chinese. Araucaria, 18(35), 217-219. https://doi.org/10.12795/araucaria.2016.i35.11

Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Sanata Dharma University Press.

Zhan, Y. (2021). Evoking Expressiveness and Impressiveness: A Contrastive Research on Contemporary Onomatopoeias from Double Dimensions of Embodied Philosophy and Cultural Models. Foreign Language and Literature (bimonthly), 37(6).

Zhang, T. (1984). Bao Hulu de Mimi [Rahasia Labu Ajaib ]. People's Literature Publishing House.

Zhang, X. (2010). English Rhetoric. Beijing: Tsinghua University Press.

Zhou, J., Zhen, Y., & Ding, Z. (2024). Yinghan Nishengci Bijiao Yanjiu[A Comparative Study of English and Chinese Onomatopoetic Words.]. Journal of Zhaotong University, 46(6), 91-96. 

Bahasa Abstract

Artikel ini membahas perbandingan onomatope bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia dalam karya sastra anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan membandingkan bentuk-bentuk onomatope yang terdapat dalam buku cerita anak berbahasa Mandarin Bǎo Húlú De Mìmì (Rahasia Labu Ajaib) dan buku cerita anak berbahasa Indonesia Sehari Satu Dongeng. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis kontrastif. Data dikumpulkan melalui teknik baca-catat, kemudian dianalisis dengan metode referensial dan metode padan. Klasifikasi data mengacu pada sumber bunyi yang direpresentasikan, yaitu bunyi manusia, bunyi hewan, bunyi fenomena alam, dan bunyi benda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam korpus bahasa Mandarin ditemukan 31 bentuk onomatope, sedangkan dalam korpus bahasa Indonesia ditemukan 27 bentuk onomatope. Onomatope bahasa Mandarin didominasi oleh kategori bunyi benda sebanyak 18 data, sedangkan onomatope bahasa Indonesia didominasi oleh kategori bunyi manusia sebanyak 10 data. Temuan ini menunjukkan bahwa cerita anak berbahasa Mandarin dalam penelitian ini lebih banyak merepresentasikan bunyi yang bersumber dari objek, tindakan, dan peristiwa fisik, sementara cerita anak berbahasa Indonesia lebih menonjolkan bunyi yang berkaitan dengan tokoh, makhluk hidup, dan situasi naratif. Meskipun demikian, kedua bahasa sama-sama memanfaatkan onomatope untuk menghadirkan impresi auditori yang konkret dan memperkuat daya ekspresif cerita anak.

Share

COinS