•  
  •  
 

Abstract

This study examines the subtitling strategies used in translating Korean terms of address into Indonesian, with a focus on how sociocultural meanings embedded in Korean address systems are conveyed in the target language. Employing a descriptive qualitative approach, the study analyses a corpus of dialogue excerpts taken from two Korean drama series. The findings identify seven categories of address terms: proper names, occupational titles, kinship terms, common nouns, attention-getters, pronouns, and child name-derived forms. Proper names are the most frequent category, followed by occupational titles, kinship terms, common nouns, and attention-getters, whereas pronouns and child name-based forms occur less frequently. This distribution reflects the Korean sociolinguistic preference for personalized and hierarchical forms of address that signal respect, familiarity, and social harmony. The analysis reveals six main subtitling strategies: borrowing, substitution, literal translation, explicitation, omission, and compensation. The results indicate that translating Korean terms of address requires sensitivity to sociocultural context and audiovisual constraints. These findings highlight the importance of context-sensitive decision-making in achieving pragmatic and cultural equivalence in audiovisual translation.

References

Azizah, A., Putri, D. E., Aryana, S. P., & Ansas, V. N. (2022). Korean Terms of Address in Drama Hospital Playlist 2. Proceedings of the Sixth International Conference on Language, Literature, Culture, and Education (ICOLLITE 2022), 93–98. https://doi.org/10.2991/978-2-494069-91-6_15

Cintas, J. D., & Remael, A. (2021). Subtitling: concepts and practices. Routledge. 

Enggrayani, E., Nimashita, H., & Aibonotika, A. (2017). Penerjemahan kata sapaan pada novel terjemahan Niji No Shounen Tachi (terjemahan dari novel Laskar Pelangi). Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau4(1), 1–14. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFKIP/article/view/13647

Febriyanto, R., Tou, A. B., & Alzuhdy, Y. A. (2016). Address terms, translation strategies, and meaning equivalence in Doyle’s The Adventures of Sherlock Holmes and Dianasari’s Petualangan Sherlock Holmes. Sastra Inggris - Quill5(2), 176–182. https://journal.student.uny.ac.id/index.php/quill/article/view/1191

Hariyanto, S. (2005). Subtitling: Di antara keterbatasan bahasa-budaya dan media. International Conference on Translation: Translation, Discourse and Culture, Indonesia, 99–105.

Hwang, S. J. J. (1991). Terms of address in Korean and American cultures. Intercultural Communication Studies1(2), 117–134.

Johanna, J. (2017). Penerjemahan kata sapaan orang kedua dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori ke dalam Heimkehr Nach Jakarta [Skripsi tidak dipublikasikan]. Universitas Indonesia.

Kang, S., & Jeon, E. (2013). A study on terms of address and reference education status and remedy in Korean textbooks. Korean Education95, 363–389. https://doi.org/10.15734/koed..95.201306.363

Kim, E. (2016). Analisis penggunaan kata sapaan bahasa Korea dalam buku-buku percakapan yang ditulis oleh orang Indonesia[Thesis tidak dipublikasikan]. Universitas Indonesia.

Kim, H. (2015). Teaching of reference and address terms in terms in discourse context [Keynote Presentation]. Joint Seminar by Korean Foundation and the Korean Studies Association of Vietnam 2015.

Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (4th ed.). Gramedia Pustaka Utama.

Larson, M.K. (1984). Penerjemahan Berdasarkan Makna: Pedoman untuk Pemadanan Antarbahasa (Kencanawati T., Trans.) (1988). Penerbit Arcan. (Karya asli diterbitkan 1988).

Lubis, S., & Shara, N. M. (2022). The translation strategies on address terms in Love Rosie movie. ELP (Journal of English Language Pedagogy)7(1), 9–20. https://ojs.fkipummy.ac.id/index.php/elp/article/view/512/373

Machali, R. (2020). Pedoman bagi penerjemah. Jakarta: Gramedia.

Nassaji, H. (2015). Qualitative and descriptive research: Data type versus data analysis. Language Teaching Research19(2), 129–132. https://doi.org/10.1177/1362168815572747

Newmark, P. (1988). A textbook of translation. Shanghai Foreign Language Education Press.

Sohn, H. (1999). The Korean language. Cambridge University Press. 

Son, C. (2010). A study of the types and characteristics on modern Korean terms of address. Korean Semantics33, 95–129.

Song, I. S. (2020). The Development and Change of Use in the Modern Korean ‘I+bo-’ class. Korean Cultural Studies, 89, 539-561. 

Song, J. (2005). The Korean language: structure, use and context (1st ed.). Routledge.

Suhandra, I. R. (2014). Sapaan dan honorifik. Society5(1), 99–115. https://doi.org/10.20414/society.v5i1.1453

Tumbole, G. F. F., & Cholsy, H. (2022). Strategi penerjemahan kata sapaan dengan konteks sosial dan budaya dalam novel Bumi Manusia terjemahan bahasa Inggris. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya5(3), 589–602. https://doi.org/10.30872/diglosia.v5i3.432

Wigraha, I. G. P. E. A., & Puspani, I. A. M. (2022). The analysis of subtitling strategies used in Zootopia movie. Retorika: Jurnal Ilmu Bahasa8(1), 73–78. https://doi.org/10.55637/jr.8.1.4360.73-78

Yeon, J., & Brown, L. (2011). Korean: a comprehensive grammar (1st ed.). Routledge.

Bahasa Abstract

Penelitian ini mengkaji strategi subtitling yang digunakan dalam menerjemahkan bentuk sapaan bahasa Korea ke dalam bahasa Indonesia, dengan fokus pada bagaimana makna sosiokultural yang melekat dalam sistem sapaan bahasa Korea dialihkan ke bahasa sasaran. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis korpus berupa kutipan dialog yang diambil dari dua serial drama Korea. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh kategori bentuk sapaan, yaitu nama diri, jabatan atau profesi, istilah kekerabatan, nomina umum, ungkapan penarik perhatian, pronomina, serta bentuk sapaan yang berasal dari nama anak. Nama diri merupakan kategori yang paling dominan, diikuti oleh jabatan atau profesi, istilah kekerabatan, nomina umum, dan ungkapan penarik perhatian, sedangkan pronomina dan bentuk berbasis nama anak muncul dengan frekuensi yang lebih rendah. Distribusi ini mencerminkan kecenderungan sosiolinguistik bahasa Korea yang mengutamakan bentuk sapaan yang bersifat personal dan hierarkis sebagai penanda rasa hormat, keakraban, dan keharmonisan sosial. Analisis menunjukkan enam strategi subtitling utama, yaitu peminjaman, substitusi, penerjemahan harfiah, eksplisitasi, pelesapan, dan kompensasi. Hasil penelitian menegaskan bahwa penerjemahan bentuk sapaan bahasa Korea memerlukan sensitivitas terhadap konteks sosiokultural serta keterbatasan media audiovisual. Temuan ini menyoroti pentingnya pengambilan keputusan yang kontekstual untuk mencapai kesepadanan pragmatik dan kultural dalam penerjemahan audiovisual.

Share

COinS