Abstract
Rice barns are agrarian vernacular architecture that reflects local knowledge, environmental adaptation, and the socio-cultural values of the supporting community. This study aims to examine the architectural characteristics of traditional rice barns in Lolo Gedang Village, Kerinci, through analysis of form, construction techniques, and cultural context. The method used is descriptive qualitative with inductive reasoning based on literature studies and analysis of the architectural elements of the barn as a cultural artifact. The results show that the Lolo Gedang rice barn is designed adaptively to highland climate conditions, especially in maintaining the quality of grain from humidity and pests, through a stilt system, the use of local wood materials, and a steep roof shape. In addition to its technical function, the rice barn also has social and symbolic meanings related to the customary system and food security of the Kerinci community. This study confirms that the rice barn does not only function as a storage building, but also as a representation of traditional agrarian architecture and culture.
References
Bastomi, S. (2003). Seni dan budaya Jawa. Semarang: IKIP Semarang Press.
Geertz, C. (1963). Agricultural involution: The processes of ecological change in Indonesia. Berkeley: University of California Press.
Hadler, J. (2008). Muslims and matriarchs: Cultural resilience in Minangkabau through jihad and colonialism. Ithaca: Cornell University Press.
Hasibuan, R. (2014). Sistem pengelolaan pangan tradisional pada masyarakat pedesaan. Jurnal Antropologi Indonesia, 35(2), 145–158.
Hidayat, R. (2019). Pola penataan bangunan tradisional dalam permukiman masyarakat Kerinci. Jurnal Arsitektur Nusantara, 8(1), 23–35.
Ismail, M. (2015). Arsitektur vernakular di wilayah pegunungan Sumatra. Padang: Andalas University Press.
Koestoro, L. P. (2001). Pola permukiman tradisional di Sumatra bagian tengah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Misrawi. (2015). Arsitektur tradisional Kerinci. Jambi: Balai Pelestarian Nilai Budaya Jambi.
Navis, A. A. (1986). Alam takambang jadi guru: Adat dan kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Pers.
Oliver, P. (1997). Encyclopedia of vernacular architecture of the world. Cambridge: Cambridge University Press.
Prasetyo, B. (2014). Rumah adat dan identitas budaya masyarakat Kerinci. Jurnal Humaniora, 26(3), 301–315.
Rahmadhanty, F. (2019). Tipologi rangkiang sebagai bangunan penyimpanan padi masyarakat Minangkabau. Jurnal Arsitektur Tradisional, 5(2), 87–98.
Rapoport, A. (1969). House form and culture. Englewood Cliffs: Prentice-Hall.
Setyawan, W. (2019). Pelestarian arsitektur tradisional di kawasan pedesaan Sumatra. Jurnal Pelestarian Budaya, 11(1), 55–69.
Soekiman. (2000). Ragam hias tradisional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sukendar, H. (1999). Metode penelitian arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Sumardjo, J. (2006). Estetika paradoks. Bandung: Sunan Ambu Press.
Waterson, R. (1990). The living house: An anthropology of architecture in South-East Asia. Oxford: Oxford University Press.
Bahasa Abstract
Lumbung padi merupakan arsitektur vernakular agraris yang merefleksikan pengetahuan lokal, adaptasi lingkungan, dan nilai sosial budaya masyarakat pendukungnya. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik arsitektur lumbung padi tradisional di Desa Lolo Gedang, Kerinci, melalui analisis bentuk, teknik konstruksi, dan konteks budaya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan penalaran induktif berbasis studi pustaka dan analisis unsur arsitektural lumbung sebagai artefak budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lumbung padi Lolo Gedang dirancang secara adaptif terhadap kondisi iklim dataran tinggi, terutama dalam menjaga kualitas gabah dari kelembapan dan hama, melalui sistem panggung, penggunaan material kayu lokal, dan bentuk atap yang curam. Selain fungsi teknis, lumbung padi juga memiliki makna sosial dan simbolik yang berkaitan dengan sistem adat dan ketahanan pangan masyarakat Kerinci. Penelitian ini menegaskan bahwa lumbung padi tidak hanya berfungsi sebagai bangunan penyimpanan, tetapi juga sebagai representasi arsitektur dan budaya agraris tradisional.
Recommended Citation
Lubis, Romario
(2026)
"KAJIAN ARSITEKTUR LUMBUNG PADI, LOLO GEDANG, KERINCI,"
Multikultura: Vol. 5:
No.
1, Article 20.
DOI: 10.7454/multikultura.v5i1.1213
Available at:
https://scholarhub.ui.ac.id/multikultura/vol5/iss1/20
Included in
American Material Culture Commons, Architectural Engineering Commons, Art and Materials Conservation Commons, Classical Archaeology and Art History Commons, Historic Preservation and Conservation Commons, Other Languages, Societies, and Cultures Commons, Philosophy Commons, South and Southeast Asian Languages and Societies Commons