•  
  •  
 

Abstract

Kedaton Temple is one of the temples located in the Muara Jambi Temple Complex. Kedaton Temple, like most other temples in this temple complex, is composed of several rooms. Kedaton Temple in the Muara Jambi Temple Complex is considered the largest temple there. In addition, Kedaton Temple is composed of 14 rooms. The large number of rooms raises the question of how the existing spatial hierarchy is seen from the concept of Buddhist Cosmology. This research was conducted by conducting a literature study and analyzed using spatial analysis. The literature study was carried out by collecting sources such as books, journals, theses, and other written works related to the research material. The approach used is an archaeological and architectural approach. The archaeological approach is used to provide an interpretation of the temple building that will be linked to Buddhist cosmology, while the architectural approach is carried out by analyzing the spaces that make up Kedaton Temple. The results obtained are the hierarchy of Kedaton Temple is composed of three parts, namely the core courtyard, the middle courtyard, and the outer courtyard. The inner courtyard can be considered a sacred space, the middle courtyard is a semi-sacred space, and the outer courtyard is a profane space.

References

Bakker, A. (1995). Kosmologi dan Ekologi (Kanisius (ed.); Cetakan Pe). Kanisius.

Ching, F. D. K. (2008). Arsitektur Bentuk, Ruang, dan Tatanan (L. Simarmata (ed.); Third Edit). Erlangga.

Copplestone, L. (2024). Temple-Monasteries, Buddhist Monks, and Architectural Exchange Between India, Java, and Tibet in the Late 8th Century. Religions15(11). https://doi.org/10.3390/rel15111338

Danuleksono, S. H. B., & Herwindo, R. P. (2021). Relation of Ancient Mataram Temple Based on North India and South India’S Characteristics: From the Figure-Tectonics, Mass-Space Study, and Ornamentation. Riset Arsitektur (RISA), 5(04), 334–347. https://doi.org/10.26593/risa.v5i04.5298.334-347

De Silva, W. (2017). Nature and Buddhist architecture: Sri Lanka. International Journal of   Design   and   Nature   and   Ecodynamics,   12(2),   225–234. https://doi.org/10.2495/DNE-V12-N2-225-234

Gulla, M. F., & Herwindo, R. P. (2024). Architecture Characteristics Study of the Singosari-Majapahit Era Temples ( in Terms of Architectural Syncretism By Forms  ,  Spatial  Orders,  and  Tectonics).  Riset  Arsitektur08,  406–422. www.journal.unpar.ac.id

Hariani, S. (2014). The Structure of Stupas at Muara Jambi. Arkenas, September 2014, 113–120.

Heru  Suherman  Lim.  (2019).  Kearifan  Lokal  Dari  Situs  Candi  Nusantara. Dhammavicaya :   Jurnal   Pengkajian   Dhamma,   3(1),   22–27. https://doi.org/10.47861/dv.v3i1.8

Kloetzy, W. R. (1989). Buddhist Cosmology, Science and Theology in the Image of Motion and Light. Motilal Banarsidass Publishers Privete Limited.

Kukuh, R., & Herwindo, R. P. (2024). Studi Penjajaran Arsitektur Candi Buddha di Sumatera dan Jawa dalam Konteks Mahayana Vajrayana. RISA: Jurnal Riset Arsitektur, 8(4), 423–441. www.journal.unpar.ac.id

Li, H. (2023). Spatial Hierarchies : Enlightenment to Space Syntax Theory. 438–443. Meilania, M., & Febrianti, H. (2019). Pelestarian Candi Muaro Jambi Sebagai Benda

Cagar Budaya Dan Pariwisata Di Provinsi Jambi. Journal V-Tech (Vision Technology), 2(1), 99–109. https://doi.org/10.35141/jvt.v2i1.509

Purwanti, R. (2017). 25 Tahun Penelitian Arkeologi DAS Batanghari Jambi: Peluang dan Tantangan. In B. B. Utomo (Ed.), 25 Tahun Retropeksi Balai Arkeologi Sumatera Selatan (Pertama, pp. 93–104). Kepel Press.

Putri, K. A. P. (2018). Arsitektur candi kedaton di kawasan percandian muarajambi skripsi. Universitas Indonesia.

Redaksi. (2024). Miliki Luas 3.981 Hektare, Kawasan Cagar Budaya Nasional Muara Jambi   Lebih   Hebat   Dari   Angkor   Wat.   Reportase   News. https://reportasenews.com/miliki-luas-3-981-hektare-kawasan-cagar-budaya-nasional-muara-jambi-lebih-hebat-dari-angkor-wat/

Sadzali, A. M. (2019). Jurnal Kajian Budaya Hulu ke Hilir : Jaringan dan Sistem Perniagaan    Sungai    Kerajaan    Srivijaya.    Paradigma,    9(1). https://doi.org/10.17510/paradigma.v9i1.276

Sadzali, A. M., Resiyani, M. A. W., & Hum, M. (2021). The Civilization of Batanghari River: The Relationship between Dharmasraya Temple and Muarajambi Ancient Malay Period in Religious Perspective. International Conference on Malay Identity 6rd:  The Cross Culture, and  Challenge  of  Sustanability,  7–14. https://www.conference.unja.ac.id/ICMI/index

Suamba, D. I. P. (2015). Cosmology and Cultural Ecology as Reflected in Borobudur Buddhist Temple Dr.IdaBagus Putu Suamba 1 Lecturer, Politeknik Negeri Bali, Indonesia. Journal of International Buddhist Studies, Vol.6 No.1.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (4th ed.). ALFABETA, cv.

Suryani, I. (2018). CANDI KEDATON MUARA JAMBI DAN NILAI KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH: SEBUAH IDENTIFIKASI AWAL. Historia, 6.

Tjoa-Bonatz, M. L., Neidel, J. D., & Widiatmoko, A. (2009). Early architectural images from Muara Jambi on Sumatra, Indonesia. Asian Perspectives, 48(1), 32–55. https://doi.org/10.1353/asi.0.0009

Utomo, B. B. (2011). Kebudayaan Zaman Klasik Indonesia di Batanghari. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi.

Wahyuningputri, R., Hasudungan, R., Hartono, A., & Djati, S. (2021). Muarajambi Temples Compound Site as Sustainable Pilgrimage Tourism Products and Services. 2(1), 18–28.

Bahasa Abstract

Candi Kedaton adalah salah satu candi yang berada di Kawasan Percandian Muara Jambi. Candi Kedaton, seperti kebanyakan candi lainnya yang ada di Kompleks Percandian ini, tersusun dari beberapa ruang. Candi Kedaton di Kompleks Percandian Muara Jambi dianggap sebagai candi terbesar yang ada di sana. Selain itu, Candi Kedaton tersusun dari 14 ruang. Banyaknya jumlah ruang membuat munculnya pertanyaan bagaimana hirarki ruang yang ada dilihat dari konsep Kosmologi Buddha. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan studi pustaka dan dianalisis dengan menggunakan analisis spasial. Studi pustaka dilakukan dengan dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber seperti buku, jurnal, skripsi, dan karya tulis lainnya yang berhubungan dengan bahan penelitian. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan arkeologis dan arsitektural. Pendekatan arkeologis digunakan untuk memberikan interpretasi terhadap bangunan candi yang akan dikaitkan dengan kosmologi Buddha, sedangkan pendekatan arsitektural dilakukan dengan melakukan analisis ruang-ruang yang menyusun Candi Kedaton.Hasil yang didapatkan adalah hirarki Candi Kedaton tersusun atas tiga bagian, yaitu halaman inti, halaman tengah, dan halaman luar. Halaman inti bisa dianggap sebagai ruang sakral, halaman tengah adalah ruang semi sakral, dan halaman luar adalah ruang profan.

Share

COinS