•  
  •  
 

Abstract

Masjid Pathok Negoro Dongkelan is one of the kagungan dalem mosques belonging to the Yogyakarta Sultanate, constructed as part of the spiritual and administrative structure of the Kraton’s territory. This study examines the architectural form and distinctive characteristics of Masjid Pathok Negoro Dongkelan using a comparative method with other Pathok Negoro mosques as well as the Great Mosque of Kauman (Masjid Gedhe Kauman). The findings indicate that Masjid Dongkelan possesses unique architectural features, including a fully enclosed veranda, a covered pulpit with a curved roof adorned with ornaments symbolizing the Sultanate, and two pawestren (women’s prayer spaces) that are not found in the other comparative mosques. In addition to its distinctive architectural form, Masjid Dongkelan also holds significant socio-historical functions, serving as a center of community resistance during the colonial period and as a space for religious activities, education, and cultural preservation. The existence of Masjid Pathok Negoro Dongkelan represents adaptive Javanese-Islamic architecture that responds to environmental conditions and social needs, while at the same time maintaining traditional identity and its close association with the authority of the Yogyakarta Sultanate.

References

Abror, I. (2016). “Aktualisasi nilai-nilai budaya Masjid Pathok Negoro”. Esensia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 17(1), 63–79.

Aboebakar. (1955). Sedjarah Masdjid dan Amal Ibadah dalamnya. Banjarmasin: Toko Buku Adil.

Ambary, H. M. (1998). Menemukan Peradaban: Arkeologi dan Islam Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Aminah, A., & Alam, L. (2024). “Makna kiblat papat lima pancer masjid Pathok Negoro sebagai wujud spiritualitas Nagari Kasultanan Ngayogyakarta”. Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum, 24(1), 1–18.

At-Toyibi, M. N. H., & Widyastuti, D. T. (2021). “Karakter arsitektur masjid Jawa pada Masjid Pathok Negoro”. Jurnal Arsitektur Pendapa, 4(2), 23–32.

Burhanudin, R. M. (2013). Sejarah Masjid Pathok Negoro Dongkelan. Yogyakarta: Takmir Masjid Pathok Negoro Dongkelan.

Janah, R. M. M., Wardani, M. R. R., Thifana, A. R., Hamidah, W., & Fajrussalam, H. (2022). “Budaya arsitektur dalam Islam”. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(1), 4302–4312.

Mallany, Y. R. (2016). Pathok Negoro Menghadapi Perubahan Zaman. Yogyakarta: Diandra Primamitra.

Nasution, I. P. (2017). “The royal mosques in Indonesia from 16th to early 20th centuries as a power representation”. International Journal of Heritage Architecture, 1(3), 494–502.

Pijper, G. F. (1987). Fragmenta Islamica: Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia Awal Abad XX (terj. Tudjimah). Jakarta: UI-Press.

Pijper, G. F. (1984). Sejarah Islam di Indonesia 1900–1950. Jakarta: Universitas Indonesia.

Sasongko, I. W. (2015). Masjid Kagungan Dalem dan Masjid Cagar Budaya Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Galangpress.

Tjandrasasmita, U. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Bahasa Abstract

Masjid Pathok Negoro Dongkelan merupakan salah satu masjid kagungan dalem milik Kesultanan Yogyakarta yang dibangun sebagai bagian dari struktur spiritual dan administratif wilayah Kraton. Penelitian ini membahas bentuk arsitektur dan ciri khas Masjid Pathok Negoro Dongkelan dengan metode komparatif terhadap masjid Pathok Negoro lainnya serta Masjid Gedhe Kauman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Dongkelan memiliki karakteristik arsitektur yang unik, seperti serambi yang tertutup rapat, mimbar tertutup dengan atap melengkung serta ornamen simbol Kesultanan, dan dua pawestren yang tidak dimiliki oleh masjid pembanding lainnya. Selain kekhasan bentuknya, Masjid Dongkelan juga memiliki fungsi sosial historis yang penting, antara lain sebagai pusat perlawanan masyarakat pada masa kolonial dan sebagai ruang kegiatan keagamaan, pendidikan, serta pelestarian budaya. Keberadaan Masjid Pathok Negoro Dongkelan merepresentasikan arsitektur Islam-Jawa yang adaptif terhadap kondisi lingkungan dan kebutuhan sosial, sekaligus mempertahankan identitas tradisional serta keterkaitannya dengan otoritas Kesultanan Yogyakarta.

Share

COinS