Abstract
Yogyakarta is widely recognized as a city of culture and education, a symbolic identity institutionalized through historical narratives, political discourse, and cultural policy. The emergence of klitih—a term originally denoting aimless wandering but now associated with youth-perpetrated street violence—has challenged this image and generated intense public concern. While existing studies primarily explain klitih through causal factors such as peer influence, family supervision, and socio-economic conditions, this article shifts attention to the discursive construction of the phenomenon. Drawing on a constructionist approach and informed by cultural criminology and moral panic theory, the study analyses semi-structured interviews with government officials, law enforcement officers, journalists, and civil society actors, alongside representations in mass media and social media. The findings demonstrate that klitih has undergone a semantic transformation and is constructed as a “folk devil” that symbolically contaminates Yogyakarta’s urban identity. The strength of the city’s cultural branding amplifies moral panic and legitimises repressive governance responses. The article argues that in cities with strongly institutionalised symbolic identities, crime is framed not merely as deviance but as a paradox to urban meaning. By situating klitih within the symbolic politics of the city and Indonesia’s historical governance of crime, this study contributes to cultural criminology by demonstrating how moral panic operates in post-authoritarian urban contexts.
References
Aldridge, J, Medina, J., & Ralphs, R. (2013). ‘Dangers of Problems of doing ‘gang’ research in the UK’ in Street Gangs, Migration and Ethnicity (pp. 44-49), Willan Publishing.
Bourchier, David, Crime, Law and State Authority in Indonesia, dalam Arief Budiman (ed), State and Civil Society in Indonesia, Center of Southeast Asian Studies, Monash University, Clayton, Victoria, 1990, pp. 177-212.
Beckett K., & Herbert, S. (2009). Banished: The New Social Control in Urban America. Oxford University Press.
Case, S. & Haines, K. (2019). Knife Crime: Children are not the problem, they are part of the solution. The Conversation, 7th January 2019.
Cohen, S. (2002). Folk Devils and Moral Panics: the creation of the Mods and Rockers. London and New York, Routledge.
David, M., Rohloff, A., Petley, J., & Hughes, J. (2011). The Idea of Moral Panic – ten dimensions of dispute. Crime, Media, Culture, 7(3), 215-228.
Disley, E. & Liddle, M. (2016). Local Perspectives in Ending Gangs and Youth Violence Areas: Perceptions of the nature of urban street gangs. Research Report 88, Home Office.
Ferrell, J., Hayward, K., & Young, J. (2008). Cultural Criminology. Los Angeles, Sage Publications.
Ferrell, J., & Websdale, N. (ed). (1999). Making Trouble: Cultural Constructions of Crime, Deviance and Control. New York, Aldine de Gruyter.
Fuadi, Ahmad, et.al. (2019). Faktor-faktor Determinan Perilaku Klitih, dalam Jurnal Spirits, Volume 09(2).
Hadna, Agus Heruanto, et.al. (2017). Laporan Hasil Penelitian Penyusunan Peta Perubahan Sosial dan Potensi Konflik di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2017. Yogyakarta, PSKK UGM dan Badan Kesbangpol DIY.
Halsey, K., & White, R. (2008). Young People, Crime and Public Perceptions: a review of the literature. Berkshire: National Foundation for Educational Research.
Hancock, L. (2001). Community, crime and disorder: safety and regeneration in urban neighbourhoods. New York, Palgrave.
Jaelani, Jejen. (2020). Semiotika Kota: Pertarungan Ideologis di Ruang Urban. Yogyakarta, Cantrik Pustaka.
Kurniawan, Kevin Maulana. (2018). Kuasa dan Kepentingan: Hubungan Gali dan Parpol di Yogyakarta 1977-1982. Yogyakarta, Dialog Pustaka.
Mee, C. Y., Sairin, S., & Abdullah, I. (2005). Kekerasan Vigilantisme Dalam Tatanan Sosial: Sebuah Usulan Kerangka Analisis Kekerasan dari kasus Amerika, Afrika, dan Indonesia. Humaniora, Vol 17(1),17-30.
Mohdin, A. (2019, February 27). Police Chief Says Knife Crime Spate in National Emergency. The Guardian. Retrieved from https://www.theguardian.com/uk-news/2019/feb/27/police-chief-says-knife-spate-is-national-emergency
Munawaroh, S, et.al. (1999). Peranan Kebudayaan Daerah Dalam Perwujudan Masyarakat Industri Pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nugraha, D. H. (2019). Antalogi Cerita Kota, Kumpulan Artikel Permukiman dan Perkotaan. Yogyakarta, Diandra Kreatif.
Parks, C. P. (1995). Gang Behavior in the Schools: Reality or Myth? Educational Psychology Review, 7(1), 41-68.
Pauly, T. H. (1997). The Criminal as Culture. American Literary History, 9(4), 776-785.
Pratama, D. P., & Saraswati, R. (2013). Kajian Tentang Politik Hukum Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Diponegoro Law Journal, 2(2). 1-10.
Piliang, Y. A. (2020). Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Bandung, Cantrik Pustaka.
Potter, G. W., & Kappeler, V. E. (2006). Constructing Crime: Perspectives on Making News and Social Problems. Illinois, Waveland Press.
Siegel, J. T. (2000). Penjahat Gaya [Orde] Baru: Eksplorasi Politik dan Kriminalitas. Yogyakarta, LKiS.
Sigit, A. (2017, March 15). QZRUH dan JOXZIN Dua Gank Legendaris Jogja, Siapa Mereka? Krjogja.com Retrieved from https://www.krjogja.com/berita-lokal/diy/yogyakarta/qzruh-dan-joxzin-dua-gank-legendaris-jogja-siapa-mereka/
Soemardjan, S. (2009). Perubahan Sosial di Yogyakarta. Depok, Komunitas Bambu.
Subanar, B. (2007). Bayang-Bayang Sejarah Kota Pendidikan Yogyakarta: Komunitas Learning Society. Yogyakarta, Sanata Dharma University Press.
Subhan SD. (2003). Danger Zone: Jalanan, Perempatan, dan Kawasan Rawan di Jakarta. Jakarta, Gagas Media.
Tadie, J. (2009). Wilayah Kekerasan di Jakarta. Jakarta, Ecole Francaise d’Extreme-Orient Institut de Recherche pour le Developpement, Forum Jakarta-Paris.
Walsh, J. P. (2020). Social Media and Moral Panics: Assessing the Effects of Technological Change on Societal Reaction. International Journal of Cultural Studies, 23(6), 840-859.
White, Rob, et.al. (2008). Geng Remaja: Fenomena dan Tragedi Geng Remaja Dunia. Yogyakarta, Gala Ilmu Semesta.
Wilson, I. D. 2018. Politik Jatah Preman: Ormas dan Kuasa Jalanan di Indonesia Pasca Orde Baru. Marjin Kiri.
Wolfgang, Marvin E, et.al (ed). (1970). The Sociology of Crime and Delinquency 2nd ed. New York, John Wiley & Sons Inc.
Bahasa Abstract
Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya dan pendidikan, sebuah identitas simbolis yang diinstitusionalisasikan melalui narasi sejarah, diskursus politik, dan kebijakan budaya. Kemunculan klitih—sebuah istilah yang awalnya merujuk pada pengembaraan tanpa tujuan namun kini dikaitkan dengan kekerasan jalanan yang dilakukan oleh pemuda—telah menantang citra ini dan menimbulkan keprihatinan publik yang intens. Meskipun studi-studi terbaru sebagian besar menjelaskan klitih melalui faktor-faktor kausal seperti pengaruh teman sebaya, pengawasan keluarga, dan kondisi sosio-ekonomi, artikel ini mengalihkan perhatian pada konstruksi diskursif fenomena tersebut. Menggunakan pendekatan konstruktivis dan didukung oleh kriminologi budaya dan teori kepanikan moral, studi ini menganalisis wawancara semi-terstruktur dengan pejabat pemerintah, petugas penegak hukum, jurnalis, dan aktor masyarakat sipil, serta representasi dalam media massa dan media sosial.
Temuan menunjukkan bahwa klitih telah mengalami transformasi semantik dan dibangun sebagai “folk devil” yang secara simbolis mencemari identitas perkotaan Yogyakarta. Kekuatan branding budaya kota memperkuat kepanikan moral dan melegitimasi respons pemerintahan yang represif. Artikel ini berargumen bahwa di kota-kota dengan identitas simbolis yang kuat, kejahatan tidak hanya dipandang sebagai penyimpangan, tetapi juga sebagai paradoks terhadap makna perkotaan. Dengan menempatkan klitih dalam politik simbolis kota dan tata kelola kejahatan historis Indonesia, studi ini berkontribusi pada kriminologi budaya dengan menunjukkan bagaimana kepanikan moral beroperasi dalam konteks perkotaan pasca-otoriter.
Recommended Citation
Sulhin, Iqrak and Harahap, Chisa Belinda
(2026)
"Folk Devil Construction in The Symbolic Space of The City (A Study of Klitih in the City of Yogyakarta),"
Jurnal Kriminologi Indonesia: Vol. 2:
Iss.
1, Article 6.
Available at:
https://scholarhub.ui.ac.id/kriminologi/vol2/iss1/6