•  
  •  
 

Jurnal Kajian Stratejik Ketahanan Nasional

Abstract

Social media has transformed the political landscape, becoming crucial in general election preparations. It provides direct access to voters, a platform for political candidates to interact with audiences, and enables active participation in the political process. However, it also poses risks, such as the spread of false information, social division, and polarization. Algorithms on social media play a central role in shaping public perceptions of elections. These algorithms can create “filter bubbles,” where users are only exposed to views aligning with their beliefs, and “echo chambers,” reinforcing existing views. This qualitative research, using a literature study method, found that digital propaganda on social media influences public opinion, especially during elections. This propaganda employs hashtags, bots, fake accounts, rhetorical techniques, and emotional psychology. Hashtags can make conversations trending topics, while bots and fake accounts rapidly disseminate messages. To counteract the negative impacts of algorithms and digital propaganda, strict regulations, robust digital education, and literacy, and a comprehensive understanding of how algorithms work are essential. These measures are crucial to maintaining a democratic and inclusive political process during elections.

References

BBC.com, “Rusia ‘meddled in all big social media’ around US election”, BBC.com, 17 Desember 2018, https://bbc.com/news/technology-46590890, diakses 17 Oktober 2023.

Bjola, Corneliu. (2017). Propaganda in the digital age. Global Affairs. 3. 189-191.

Bozdag, Engin & van den hoven, Jeroen. (2015). Breaking the filter bubble: democracy and design. Ethics and Information Technology.

Bradshaw, Samantha dan Philip N. Howard, “The Global Disinformation Order 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation”, 2019, Computational Propaganda Research Project.

Burgess, J., & Bruns, A. (2012). (Not) Twitter Election: The Dynamics of the #autovotes Conversation in Relation to the Australian Media Ecology. Transformative Works and Cultures, 6(3), 384-402. https://doi.org/10.1080/17512786.20 12.663610

Cahyani, V., Ilhamsyah, I., dan Mutiah, N. (2021). “Analisis Tingkat Literasi Digital pada Generasi Z dengan Menggunakan Digital Competence Framework 2.1 (Studi Kasus: Mahasiswa FMIPA Untan). Coding Jurnal Komputer dan Aplikasi, 9(1), 1–11.

Da San Martino, G., Cresci, S., Barrón-Cedeño, A., Yu, S., Di Pietro, R., & Nakov, P. (2020). A survey on computational propaganda detection. ArXiv E-Prints

Fabianus Fensi, “Peran Media Sosial dalam Pembentukan Karakteristik Siswa SMA & SMK Bhinneka Tunggal Ika Jakarta”, Jurnal Pengabdian dan Kewirausahaan, (online), volume 4, no. 2

Gabriel Panahatan Simanjuntak, 2021, Echo chambers dan Polarisasi Politik di Media Sosial (Studi Analisis : Fenomena Hashtag (#) oleh Pendukung Capres-Cawapres di Twitter dalam Kontestasi Politik Tahun 2019). Universitas Sumatera Utara, Skripsi dipublikasikan.

Gurevitch, M., Bennett, T., Curran, J., & Woollacott, J. (1982). Culture, Society, and the Media. London: Routledge

Heinrich, A., Schneider, B.A., and Craik, F.I.M. (2012). Investigating the influence of continuous babble on auditory short-term memory performance. Quarterly Journal of Experimental Psychology, 61, 735-751. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. 2012. Improving Adult Literacy Instruction: Options for Practice and Research. Washington, DC: The National Academies Press. https://doi.org/10.17226/13242.

Kharisma Dhimas Syuhada, “Etika Media di Era Post-Truth,” Jurnal Komunikasi Indonesia Volume V, no. 1 (2017).

Merlyna, L. (2017). Freedom to hate: social media, algorithmic enclaves, and the rise of tribal nationalism in Indonesia.(Bd. 49). Taylor and Francis : Critical Asian Studies.

Rohman, Syaiful and Nurhasanah, Siti (2019) "Paham Radikalisme Berdasarkan Perspektif Agama (Radicalism Based On Religious Perspective)," Journal of Terrorism Studies: Vol. 1: No. 1, Article 2.

Sellita. (2022). Media Sosial dan Pemilu: Studi Kasus Pemilihan Presiden Indonesia. Jurnal Lemhannas RI, 10(3), 149-164.

Bahasa Abstract

Media sosial telah menjadi elemen kunci dalam politik modern, khususnya menjelang pemilihan umum, dengan algoritma yang memainkan peran sentral dalam mempengaruhi interaksi pengguna dengan konten politik. Algoritma media sosial menciptakan personalisasi dan penyaringan konten berdasarkan preferensi dan perilaku pengguna, yang dapat mengakibatkan terbentuknya "filter bubble" dan "echo chamber," membatasi pandangan politik pengguna dan memperkuat bias yang ada. Selain itu, algoritma cenderung menyajikan konten politik yang lebih emosional dan provokatif, meningkatkan polarisasi dan menyulitkan diskusi konstruktif. Penelitian ini, yang menggunakan metode studi literatur, menemukan bahwa propaganda digital memanfaatkan platform media sosial dan teknologi digital untuk mempengaruhi opini publik, terutama selama pemilu, melalui penggunaan tagar, bot, akun palsu, serta teknik retorika dan psikologi emosional. Penggunaan tagar untuk mengamplifikasi percakapan dan membuat trending topic, serta penyebaran pesan cepat melalui bot dan akun palsu, menciptakan ilusi dukungan massal dan mencampuradukkan informasi otentik dengan yang palsu. Untuk mengatasi dampak negatif ini, diperlukan regulasi yang lebih ketat, pendidikan literasi digital yang kuat, dan pemahaman yang lebih baik tentang cara kerja algoritma. Langkah-langkah ini penting untuk menjaga keragaman pandangan dan memastikan proses politik tetap demokratis dan inklusif menjelang pemilu.

Share

COinS