Journal of Indonesian Tourism and Policy Studies
Abstract
This study examines the disparity between revitalization objectives and the implementation of comprehensive accessibility in cultural heritage sites in Indonesia. Through a comparative analysis of two recently revitalized pilgrimage sites - the Tomb of Habib Tunggang Parangan and the Tomb of Kelambu Kuning - this research investigates how different revitalization approaches affect accessibility outcomes. The study employs a literature review methodology utilizing digital sources and policy analysis, framed within the 3A tourism framework (Attraction, Accessibility, Amenity). Findings reveal that despite implementing different models - public-private partnership versus government-led development - both sites demonstrate similar deficiencies in implementing comprehensive accessibility principles. The research identifies that time constraints in project completion, excessive focus on physical expansion and aesthetic improvements, and the absence of binding accessibility standards have resulted in the continued marginalization of persons with disabilities and elderly visitors. This study concludes that without the systematic integration of comprehensive accessibility principles from the initial planning stages, heritage revitalization projects risk perpetuating social exclusion while missing opportunities for sustainable and inclusive tourism development.
Bahasa Abstract
Penelitian ini mengkaji kesenjangan antara tujuan revitalisasi dan implementasi aksesibilitas menyeluruh pada situs warisan budaya di Indonesia. Melalui analisis komparatif dua situs ziarah yang baru direvitalisasi - Makam Habib Tunggang Parangan dan Makam Kelambu Kuning - penelitian ini menyelidiki bagaimana pendekatan revitalisasi yang berbeda mempengaruhi pencapaian aksesibilitas. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan dengan memanfaatkan sumber digital dan analisis kebijakan, dalam kerangka 3A pariwisata (Daya Tarik, Aksesibilitas, Fasilitas). Temuan menunjukkan bahwa meskipun menerapkan model berbeda - kemitraan publik-swasta versus pengembangan oleh pemerintah daerah - kedua situs sama-sama memiliki kekurangan dalam penerapan prinsip aksesibilitas menyeluruh. Penelitian mengidentifikasi bahwa tekanan waktu penyelesaian proyek, fokus berlebihan pada perluasan fisik dan perbaikan estetika, serta tidak adanya standar aksesibilitas yang mengikat telah mengakibatkan terus terpinggirkannya penyandang disabilitas dan pengunjung lanjut usia. Studi ini menyimpulkan bahwa tanpa integrasi sistematis prinsip aksesibilitas menyeluruh sejak tahap perencanaan awal, proyek revitalisasi warisan budaya berisiko melanggengkan eksklusi sosial sekaligus kehilangan peluang pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif.
References
Alyatalatthaf, M.D.M, Altamira, M., Aqtus Permana Putri, K., Hutabarat, P., Onarelly, A., Setiawati, R., & Prinera, D. (2026). Mediating Historical Heritage: Exploring Documentary Photography and an Instagram Collaborative Post in Chronicling the Onrust Archaeological Museum. Journal of Urban Society's Arts, 13(1), 13-33. doi:https://doi.org/10.24821/jousa.v13i1.17381
Badan Pusat Statistik. (2023). Proyeksi penduduk lansia Indonesia 2020-2050. Jakarta: BPS.
Center for Universal Design. (1997). The principles of universal design. North Carolina State University.Retrievedfrom https://projects.ncsu.edu/ncsu/design/cud/about_ud/udprinciplestext.htm
Indonesia. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 69.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2017). Peraturan Menteri PUPR Nomor 14/PRT/M/2017 tentang persyaratan kemudahan bangunan gedung. Jakarta: Kementerian PUPR.
Pratiwi, D., & Suryadi, A. (2023). Pendekatan revitalisasi kawasan heritage di Indonesia: Tinjauan terhadap aspek ekonomi dan inklusi sosial. Journal of Indonesian Tourism and Policy Studies, 5(2).
Sastrayu, R. T. H. (2020). Penerapan konsep 3A (attraction, accessibility, amenity) dalam pengembangan destinasi pariwisata urban. Jurnal Pariwisata Terapan, 4(1), 32-45.
World Health Organization & The World Bank. (2011). World report on disability. Geneva: WHO.
Recommended Citation
Ramadhani, Achmad
(2026)
"Post-Revitalization Accessibility Critique: A Case Study of Tunggang Parangan Cemetery vs Kelambu Kuning Cemetery,"
Journal of Indonesian Tourism and Policy Studies: Vol. 11:
Iss.
1, Article 1.
DOI: https://doi.org/10.7454/jitps.v10i2.1151
Available at:
https://scholarhub.ui.ac.id/jitps/vol11/iss1/1