•  
  •  
 

International Review of Humanities Studies

International Review of Humanities Studies

Abstract

This article offers a reinterpretation of the Kutika manuscript from a Buginese ethnoecological perspective. Departing from a philological study of the Lontara’ Kutika text in the National Library of Indonesia (PNRI) collection (code VT 129), this research examines how Buginese communities articulate their interaction with nature through this manuscript. The Kutika text has generally been understood merely as a book of time calculation, yet its background is imbued with philosophical values that show how the Buginese talk to nature, read signs, and treat nature as an equal element rather than a mere object. Using the framework of human ecology, this study describes the ethnoecological concepts embedded in the Kutika text. Philosophically, human ecology is built upon an ontological view that does not separate humans from their environment. Humans see themselves as an integral part of an ecosystem, a living space with functional relationships between social and biophysical systems that cannot be separated. This view is in line with Buginese beliefs that every natural element has a spirit and exerts influence on human life. The research specifically aims to interpret the maritime traditions contained in the Kutika text from a human ecological perspective. More broadly, it contributes to scholarship by introducing local knowledge of the Bugis community, derived from centuries of observation and reflection, which remains applicable to contemporary discussions of human–environment relations.

Bahasa Abstract

Artikel ini menawarkan reinterpretasi naskah Kutika dari perspektif etnoekologis Bugis. Berangkat dari kajian filologis atas teks Lontara’ Kutika dalam koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) berkode VT 129, penelitian ini mengkaji cara masyarakat Bugis mengartikulasikan interaksinya dengan alam melalui naskah tersebut. Selama ini, teks Kutika umumnya dipahami sebagai kitab perhitungan waktu, padahal latar penulisannya sarat dengan nilai-nilai filosofis yang memperlihatkan cara orang Bugis berbicara dengan alam, membaca tanda-tanda, dan memperlakukan alam sebagai unsur yang setara, bukan sekadar objek. Dengan menggunakan kerangka ekologi manusia, penelitian ini mendeskripsikan konsep-konsep etnoekologis yang tertanam dalam teks Kutika. Secara filosofis, ekologi manusia dibangun di atas pandangan ontologis yang tidak memisahkan manusia dari lingkungannya. Manusia memandang diri mereka secara ekologis sebagai bagian integral dari suatu ekosistem, yakni ruang hidup dengan hubungan fungsional antara sistem sosial dan sistem biofisik yang tidak dapat dipisahkan. Pandangan ini sejalan dengan keyakinan masyarakat Bugis bahwa setiap unsur alam memiliki roh dan memengaruhi kehidupan manusia. Secara khusus, penelitian ini bertujuan menafsirkan tradisi kemaritiman yang termuat dalam teks Kutika dari perspektif ekologi manusia. Secara umum, penelitian ini berkontribusi pada khazanah keilmuan dengan memperkenalkan pengetahuan lokal masyarakat Bugis yang merupakan hasil pemikiran dan pengamatan selama ratusan tahun dan yang masih relevan untuk diterapkan dalam diskusi kontemporer mengenai relasi manusia–lingkungan.

References

Abbas, Irwan. (2005). Nuansa Islami Pada Pendirian Rumah Adat Bugis Makassar Menurut Lontaraq in Jurnal Etnohistori, II(2), pp. 161—173.

Abdoellah, Oekan S. 2(020). Dari Ekologi Manusia ke Ekologi Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ammarell, Gene. (2016). Navigasi Bugis. Makassar: Ininawa.

Armstrong, Karen. (2023). Sacred Nature: Bagaimana Memulihkan Keakraban dengan Alam. Jakarta: PT Mizan Pustaka.

Forrest, T. (1792). A Voyage from Calcutta to the Mergui Archipelago Lying on the East Side of the Bay of Bengal. J. Robson.

Gunawan, Fahmi. (2015). Good and Terrible Days Symbols in Pananrang Manuscript: A Cultural Linguistics Approach in Proceedings 2nd International Seminar on Linguistics (ISOL II), pp. 94–101. Padang: Universitas Andalas.

Gunawan, Fahmi. (2018). Pedoman Simbol Hari Baik dan Hari Buruk Masyarakat Bugis di Kota Kendari in Patanjala, 10(3), pp. 435—454.

Hardesty, D.L. (1977). Ecological Anthropology. New York: Mc-Graw-Hill.

Hasanah, N, dan Suriamihardja. (2016). Astronomy in BugineseMakassarese Culture Based on Historical and Ethnographical Sources in Journal of Physics: Conference Series 771.

Hilmanto, Rudi. (2010). Etnoekologi. Bandar Lampung: Universitas Bandar Lampung.

Kesuma, Andi Ima. (2014). Mappettong Bola A Form of Mutual Help in Bugis Community in Jurnal Sosial Budaya, 1(2), pp. 1—15.

Keraf, A. Sonny. (2014). Filsaat Lingkungan Hidup: Alam sebagai Sebuah Sistem Kehidupan Bersama Fritjof Capra. Yogyakarta: Kanisius.

Lombard, D. (1996). Nusa Jawa: Silang Budaya (2) Jaringan Asia. Gramedia Pustaka Utama-École française d’Extrêm-Orient.

Marteen, G.G. (2001). Human Ecology Basic Concepts fo Sustainable Development. London: Earthscan Publication Ltd.

Matthes, B.F. (1868). Makassarsche en Boeginesche Kotika’s. Leiden University Libraries: Sutherland.

Mattulada. (1995). Latoa, Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.

Naing, Hadi, dan Djamereng. (2018). Local Orientation Wisdom on the Bugis Traditional House Layout in Tosora Village, Wajo in Jurnal Architecture & Environment, 17(2), pp. 137—150.

Nyompa, Johan. (1986). Menelusuri Jejak I Lagaligo. (Laporan Penelitian Lapangan Teks Klasik Tingkat Doktoral, Ujung Pandang: Fakultas Adab IAIN Alauddin).

Paeni, Mukhlis. (2003). Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara; Sulawesi Selatan. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia.

Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis. Jakarta-Paris: Nalar bekerjasama dengan Forum, Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO).

Proudfoot. (2006). Old Muslim Calendars of Southeast Asia. Leiden: Brill.

Pudjiastuti, Titik. (2022). Sumber-Sumber Tertulis Indonesia Tengah, Kajian Kodikologis, Filologis, Linguistis, Historis, dan Budaya: Kalimantan Timur dan Utara. Depok: Males Arts Studio, Pusat Dokumentasi Seni Indonesia.

Rahman, Abdul, et all. (2019). Eksistensi Tradisi Kutika (Penentuan Hari Baik) pada Masyarakat Muna (Studi di Desa Wali Kecamatan Watuputih Kabupaten Muna) in Neo Societal, 4(1), pp. 591—598.

Rahmatia. (2020). Kutika Ugi’ Sakke Rupa, Kajian Ekofenomenologi dalam Teknik Pertanian Bugis. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Rambo, A.T dan P.E. Sajise. (1984). An Introduction to Human Ecology Research on Agricultural System in Southeast Asia. University of the Philippines at Los Banos Press.

Reichel-Dolmatoff, C. (1976). Cosmology as Ecological Analysis: A View from the Rain Forest in Man 11: 307—318.

Soemarwoto, O. (1999). Ekologi, Lingkungan hidup, dan Pembangunan (cet. 8). Jakarta: Penerbit Djambatan.

Sudiran, Florentinus, et all. (2018). Kebudayaan sebagai Pembimbing Kebijakan Publik (Upacara Adat Perkawinan Suku Kutai di Tenggarong, Kalimantan Timur in Dedikasi, 19(1), pp. 85—101.

Sutton, M. Q., E.N. Anderson. (2010). Introduction to Cultural Ecology. Oxford: AltaMira Press.

Tol, Roger. (2020). Animal Days: three Bugis Amulets in British collections in British Library, https://blogs.bl.uk/asian-and-african/2020/04/.

Tol, Roger. (2009). Rolled up Bugis Stories: Marriage Advice and The Tale of The Parakeet in Review of Indonesian and Malaysian Affairs 43(1), pp 189–208.

Wessing, R. (1978). Cosmology and Social Behavior in a West Javanese Settlement. Ohio: Ohio University Center for International Studies.

White, B. (1999). Nucleus and Plasma: Contract Farming and The Exercise of Power in Upland West Java, in T.M. Li (ed). Transforming the Indonesia Upland: Marginality, Power, and Production, pp. 229—256. Amsterdam: Hardwood Academic Publisher.

Yusmar, Syarifuddin. (2008). Penanggalan Bugis-Makassar dalam Penentuan Awal Bulan Kamariah Menurut Syariah dan Sains in Jurnal Hunafa 5 (3), pp. 265–86.

Share

COinS