•  
  •  
 

Bhakti: Jurnal Pengabdian Masyarakat

Abstract

Adolescence is a critical developmental stage characterized by increasing academic demands, emotional fluctuations, and the need for effective self-management skills. Many senior high school students experience difficulties in regulating time, emotions, and priorities, which may hinder both academic adaptation and psychological well-being. This study reports a school-based psychological empowerment program designed to strengthen self-regulation among students of a public senior high school in Indonesia. Using a pretest–posttest design, the program involved 323 tenth-grade students who participated in a structured intervention consisting of psychoeducation, self-reflection, case-based discussions, journaling exercises, and self-care training. Self-regulation was measured using the Short Self-Regulation Questionnaire (SSRQ). Quantitative analysis using paired-samples t-tests revealed a significant increase in self-regulation scores following the intervention (t(322) = −11.36, p < .001), indicating meaningful improvement in students’ ability to manage thoughts, emotions, and behaviors. Beyond statistical findings, qualitative observations suggested enhanced emotional awareness and reflective capacity among participants. This study contributes to the discourse on community engagement by demonstrating how school-based psychological empowerment can serve as a preventive and promotive strategy for adolescent development. Integrating self-regulation interventions within educational communities may support both academic readiness and long-term psychological well-being.

References

Bandura, A. (1991). Social cognitive theory of self-regulation. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 248–287. https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90022-L

Baumeister, R. F., & Vohs, K. D. (2007). Self-regulation, ego depletion, and motivation. Social and Personality Psychology Compass, 1(1), 115–128. https://doi.org/10.1111/j.1751-9004.2007.00001.x

Carey, K. B., Neal, D. J., & Collins, S. E. (2004). A psychometric analysis of the Self-Regulation Questionnaire. Addictive Behaviors, 29(2), 253–260. https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2003.08.001

Duckworth, A. L., & Gross, J. J. (2014). Self-control and grit: Related but separable determinants of success. Current Directions in Psychological Science, 23(5), 319–325. https://doi.org/10.1177/0963721414541462

Manesa, M. N. H. I. S., & Nur, I. D. M. (2025). Peningkatan regulasi diri melalui journaling: Studi pada remaja perempuan. Psychopolytan: Jurnal Psikologi, 8(2), 16–29.

Zimmerman, B. J. (2000). Attaining self-regulation: A social cognitive perspective. In M. Boekaerts, P. R. Pintrich, & M. Zeidner (Eds.), Handbook of self-regulation (pp. 13–39). Academic Press.

Zimmerman, B. J., & Schunk, D. H. (2011). Handbook of self-regulation of learning and performance. Routledge.

Zimmerman, B. J. (1989). A social cognitive view of self-regulated academic learning. Journal of Educational Psychology, 81(3), 329–339. https://doi.org/10.1037/0022-0663.81.3.329

Bahasa Abstract

Masa remaja merupakan fase perkembangan yang sarat dengan berbagai tuntutan, baik secara akademik maupun emosional. Pada jenjang sekolah menengah atas, peserta didik tidak hanya dihadapkan pada beban belajar yang semakin kompleks, tetapi juga pada dinamika emosi, tekanan sosial, serta tuntutan untuk mengelola diri secara mandiri. Dalam praktiknya, banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam mengatur waktu, mengelola emosi, dan menentukan prioritas, yang pada akhirnya dapat menghambat proses penyesuaian akademik sekaligus memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. Penelitian ini melaporkan pelaksanaan sebuah program pemberdayaan psikologis berbasis sekolah yang dirancang untuk memperkuat regulasi diri siswa di salah satu sekolah menengah atas negeri di Indonesia. Program ini menggunakan desain pretest–posttest dan melibatkan 323 siswa kelas X yang mengikuti rangkaian intervensi terstruktur. Kegiatan intervensi meliputi psikoedukasi, refleksi diri, diskusi berbasis kasus, latihan journaling, serta pelatihan self-care yang disesuaikan dengan konteks perkembangan remaja. Pengukuran regulasi diri dilakukan menggunakan Short Self-Regulation Questionnaire (SSRQ). Hasil analisis kuantitatif melalui uji paired-samples t-test menunjukkan adanya peningkatan skor regulasi diri yang signifikan setelah intervensi diberikan (t(322) = −11.36, p < .001). Temuan ini mengindikasikan bahwa program yang dilaksanakan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam mengelola pikiran, emosi, dan perilaku secara lebih adaptif. Selain temuan statistik, hasil observasi kualitatif selama kegiatan menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih peka terhadap kondisi emosionalnya serta lebih reflektif dalam memahami pengalaman sehari-hari. Siswa juga tampak lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan dan mulai menyadari pentingnya strategi perawatan diri sebagai bagian dari pengelolaan stres. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi pada praktik pengabdian dan pemberdayaan masyarakat dengan menunjukkan bahwa intervensi psikologis berbasis sekolah dapat berfungsi sebagai strategi preventif dan promotif dalam mendukung perkembangan remaja. Integrasi program penguatan regulasi diri dalam komunitas pendidikan berpotensi tidak hanya meningkatkan kesiapan akademik siswa, tetapi juga mendukung kesejahteraan psikologis mereka dalam jangka panjang.

Share

COinS