Bhakti: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Abstract
This community service program aims to introduce and provide education on the preservation of archaeological sites in Kupang City through community-based participatory site visits. Kupang City possesses archaeological remains spanning the prehistoric, colonial, and Japanese occupation periods; however, the extent of scholarly research and preservation efforts remains limited. The program was implemented through field observations, the delivery of historical materials, and interactive discussions conducted at several sites, including Goa Monyet, Fort Concordia, Goa Jepang Liliba, and Bukit Cinta Site. Direct community involvement facilitated a contextual understanding of the significance of cultural heritage and fostered collective awareness regarding its conservation. The results indicate that the site-visit method is effective in enhancing public knowledge and promoting active community participation in the sustainable preservation of cultural heritage.
References
Artanegara, I. G. A. G. (2021). Pendokumentasian Cagar Budaya di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Nenggara Timur.
Fobia, E. N. (2024). Sejarah Peninggalan Gua Pertahanan Jepang Pada Perang Dunia Ii Di Desa Baumata Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang. Universitas Nusa Cendana.
Groves, C. (2007). The Homo floresiensis Controversy. HAYATI Journal of Biosciences, Vol.14(4), 123–126.
Handini, R., Simanjuntak, T., Sofian, H. O., Prasetyo, B., Artaria, M. D., Wibowo, U. P., & Geria, I. M. (2018). Situs Lambanapu: Diaspora Austronesia Di Sumba Timur. Amerta, 36(2), 80. https://doi.org/10.24832/amt.v36i2.67-80
Lamahoda, R. A. R. B., Setiadi, A., Lake, R. C., & Samara, R. (2021). Perkembangan morfologi kawasan Kota Lama Kupang. EMARA: Indonesian Journal of Architecture, 6(2), 77–90. https://doi.org/10.29080/eija.v6i2.1010
Mcgimsey, C. R., & Davis, H. A. (1977). The Management of Archeological Resources the Airlie House Report (C. R. McGimsey III & H. A. Davis (eds.)). National Park Service Division of lnteragency Archeological Services.
O’Connor, S., Louys, J., Kealy, S., & Mahirta. (2015). First record of painted rock art in Kupang, West Timor, Indonesia and the origins and distribution of the Austronesian Painting Tradition. Rock Art Research, 32(2), 193–201.
Prasodjo, T. (2000). Pendekatan Partisipatoris Dalam Pengelolaan Sumberdaya Arkeologis Dan Kemungkinan Penerapannya Di Kawasan Arkeologis Gunung Kidul. Berkala Arkeologi, 20(1), 151–162. https://doi.org/10.30883/jba.v20i1.814
Ririmasse, M. (2018). Arkeologi, Publik, Dan Media Sosial Di Maluku. Kalpataru, 27(1), 31. https://doi.org/10.24832/kpt.v27i1.552
Samuels, K. L. (2008). Value and significance in archaeology. Archaeological Dialogues, 15(1), 71–97. https://doi.org/10.1017/S1380203808002535
Sumerata, I. W., Hedwi Prihatmoko, Ida Ayu Gede Megasuari Indria, J. Susetyo Edy Yuwono, & I Made Pageh. (2022). Peran Pelabuhan Kuno di Flores Timur dalam Jalur Perdagangan Nusantara pada Abad XVI-XVII. PURBAWIDYA: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi, 11(1), 1–16. https://doi.org/10.55981/purbawidya.2022.69
Tanudirjo, D. A. (2004). MELESTARIKAN WARISAN BUDAYA KITA.
Therik, W. M. A. (2018). Kota Kupang sebagai Heritage City. Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia, 7(3), 137–143. https://doi.org/10.32315/jlbi.7.3.161
Ukba, S. M. A. dan M. S. (2024). Potensi Hunian Prasejarah di Pulau Buton: Gambar Cadas Gua Laumehe dan Perspektif Pengelolaan. Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial Dan Humaniora, 9(2), 141–155.
Undang Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010 (2010).
Wirastari, V. A., & Suprihardjo, R. (2012). Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Berbasis Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus: Kawasan Cagar Budaya Bubutan, Surabaya). Jurnal Teknik ITS, 1(1), 63–67.
Kutipan web:
(Peninggalan Perang Dunia II di Kecamatan Alak Kupang (2022) dalam BPCB Bali Wilayah Prov Bali, NTB, dan NTT.) Diakses pada 7 September 2025, dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/peninggalan-perang-dunia-ii-di-kecamatan-alak-kota-kupang ).
Bahasa Abstract
Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkenalkan dan memberikan edukasi mengenai pelestarian situs arkeologi di Kota Kupang melalui kegiatan kunjungan situs berbasis partisipasi masyarakat. Kota Kupang memiliki tinggalan arkeologis dari periode prasejarah, kolonial, hingga pendudukan Jepang, namun tingkat kajian ilmiah dan upaya pelestariannya masih sangat terbatas. Kegiatan ini dilakukan melalui observasi lapangan, penyampaian materi sejarah, serta diskusi interaktif di beberapa situs seperti Goa Monyet, Benteng Concordia, Goa Jepang Liliba, dan Situs Bukit Cinta. Pelibatan masyarakat secara langsung memberikan pemahaman kontekstual mengenai nilai penting warisan budaya serta mendorong kesadaran kolektif untuk menjaga kelestariannya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa metode kunjungan situs efektif meningkatkan wawasan publik dan menumbuhkan partisipasi aktif dalam pelestarian cagar budaya secara berkelanjutan.
Recommended Citation
Ukba, Saswal
(2026)
"EDUKASI PELESTARIAN SITUS ARKEOLOGI KUPANG MELALUI KUNJUNGAN SITUS PARTISIPATIF BERBASIS MASYARAKAT,"
Bhakti: Jurnal Pengabdian Masyarakat: Vol. 3:
No.
1, Article 1.
DOI: 10.7454/bhakti.v3i1.1040
Available at:
https://scholarhub.ui.ac.id/bhakti/vol3/iss1/1
Included in
Civic and Community Engagement Commons, Other Arts and Humanities Commons, Other History of Art, Architecture, and Archaeology Commons
