International Review of Humanities Studies
Abstract
The phrase “ojo lungguh ning tengah lawang, mengko ora ilok” is a traditional prohibition still known and applied in everyday life by Javanese people. This phrase not only functions as a rule of behavior, but as part of a system of cultural meaning passed down from generation to generation. This study aims to explain how Javanese people of different generations understand this phrase and how it functions as a myth in social life. This study employs a qualitative approach utilizing Roland Barthes’s semiotic framework and the identity perspectives of Mary Bucholtz and Kira Hall. Data were collected through semi-structured interviews with Javanese residents of Karangmulyo Village, Pacitan, representing diverse social backgrounds and generations. The results show that this phrase has a denotative meaning—namely, the prohibition against sitting in the middle of the doorway—and a connotative meaning related to the values of order, propriety, and social harmony. At the mythical level, this phrase naturalizes the relationship between certain actions and their consequences, allowing it to be accepted as a common practice in everyday life. Variations in understanding across generations do not diminish the meaning, but rather demonstrate how the myth continues to operate through different forms, ranging from symbolic beliefs to the reproduction of cultural values and the shaping of collective consciousness.
Bahasa Abstract
Ungkapan “ojo lungguh ning tengah lawang, mengko ora ilok” merupakan larangan tradisional yang hingga kini masih dikenal dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Jawa. Ungkapan ini tidak hanya berfungsi sebagai aturan perilaku, tetapi juga sebagai bagian dari sistem makna budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana masyarakat Jawa dari berbagai generasi memahami ungkapan tersebut serta bagaimana ungkapan itu berfungsi sebagai mitos dalam kehidupan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan kerangka semiotika Roland Barthes serta perspektif identitas dari Mary Bucholtz dan Kira Hall. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan masyarakat Jawa di Desa Karangmulyo, Pacitan, yang mewakili beragam latar belakang sosial dan generasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan ini memiliki makna denotatif, yaitu larangan untuk duduk di tengah pintu, serta makna konotatif yang berkaitan dengan nilai-nilai ketertiban, kepantasan, dan keharmonisan sosial. Pada tataran mitos, ungkapan ini menaturalisasi hubungan antara tindakan tertentu dan konsekuensinya sehingga diterima sebagai praktik yang wajar dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan pemahaman antar generasi tidak mengurangi makna ungkapan tersebut, melainkan menunjukkan bagaimana mitos terus beroperasi dalam berbagai bentuk, mulai dari keyakinan simbolik hingga reproduksi nilai-nilai budaya dan pembentukan kesadaran kolektif.
References
Barthes, R. (1972). Mythologies. The Noonday Press.
Bucholtz, M., & Hall, K. (2004). Language and Identity. In A Companion to Linguistic Anthropology (Issue November, pp. 369–394). Blackwell. https://doi.org/10.1002/9780470996522.ch16
Eric Hobsba WM, T. R. (1983). The Invention of Tradition. Cambridge University Press. John W. Creswell, J. D. (2018). Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (Fifth). Sage. https://doi.org/10.4324/9780429469237-3
Kebudayaan, D. P. dan. (1982). Arsitektur Tradisional Daerah Jawa Tengah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Koentjaraningrat. (1987). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. PT Gramedia.
Matthew B. Miles, A. Michael Huberman, J. S. (2014). Qualitative Data Analysis A Methods Sourcebook. In Etika Jurnalisme Pada Koran Kuning : Sebuah Studi Mengenai Koran Lampu Hijau (Vol. 16, Issue 2). SAGE Publications, Inc.
Naamy, H. N. (2019). Metodologi penelitian kualitatif. Pusat Penelitian dan Publikasi Ilmiah.
Primadasa, A. (2024). Gugon Tuhon : Transmisi Nilai pada Budaya Jawa dalam Perspektif Psikologi. 8, 419–432.
Proklawati, D. (2023). Etika Ungkapan Tradisional Jawa Dalam Buku Butir-Butir Budaya Jawa. ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pembelajarannya, 6(2), 91–95.
Sitti Zulaihah, M. . (2021). BUKU AJAR PENGANTAR ILMU ANTROPOLO.
Sugiyono, P. D. (2013). METODE PENELITIAN KUANTITATIF, KUALITATIF DAN R &. D. Penerbit Alfabeta.
Sulistika Dina Absari, O. D. A. (2021). TRADISI SRIATAN DI KABUPATEN PACITAN DAN KABUPATEN PONOROGO (Kajian Etnologi Budaya). Jurnal Online Baradha, 17.
Suseno, F. M. (1984). Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. PT Gramedia.
Tristianto, A., Susanti, M. D., & Hartanto, D. D. (2024). Pemaknaan Masyarakat Terhadap Gugon Tuhon Di Ngricik , Yogyakarta. 29(1), 46–54.
Yekti, V. W. S., Rudagi, R., & Jamurin. (2025). PERGESERAN NILAI-NILAI BUDAYA DAN TRADISI DALAM UPACARA TINGKEBAN PADA MASYARAKAT SUKU JAWA DI NAGARI PADANG CANDUH, KECAMATAN KINALI, KABUPATEN PASAMAN BARAT. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(September), 343–352.
Recommended Citation
Anjani, Sara Dwi and Sutanarihesti, Triaswarin
(2026)
"MYTH AS A SYSTEM OF MEANING: NATURALIZATION IN THE EXPRESSION “OJO LUNGGUH NING TENGAH LAWANG, MENGKO ORA ILOK”,"
International Review of Humanities Studies: Vol. 11:
No.
2, Article 4.
DOI: 10.7454/irhs.v11i2.1482
Available at:
https://scholarhub.ui.ac.id/irhs/vol11/iss2/4
Included in
Anthropology Commons, Art and Design Commons, Creative Writing Commons, Cultural Heritage Law Commons, Education Law Commons, Film and Media Studies Commons, History Commons, Intellectual Property Law Commons, International and Area Studies Commons, Legal Writing and Research Commons, Linguistics Commons, Museum Studies Commons, Philosophy Commons, Urban Studies and Planning Commons
