International Review of Humanities Studies
Abstract
This study aims to explain the request for hairdressing services in Japanese beauty salon, focusing on the use of verbal and nonverbal markers. This study use descriptive qualitative design. The data source consists of video conversations between clients and hairstylist on the NARIKYO channel on YouTube. The results of analysis revealed 128 request data through two strategies, such as 77 verbal and 51 nonverbal. Verbally, desiderative forms (such as -tai and -hoshii) with 33 data, followed by declarative forms (such as -ga ii, omakase de, unfinished tense) with 17 data and embedded forms (such as -you na, -mitai na, -hou ga ii) with 16 data, whereas imperative (-kudasai) only accounted for 1 data. In the nonverbal strategy, deictic gestures (showing phone screens/mimicking hair shapes) were the most frequent at 24 data, followed by iconic gestures (touching/pointing to hair) at 21 data, and beat gestures at 3 data. Japanese hair salon clients tend to avoid direct imperative forms to maintain interactional politeness, reduce coerciveness, and allow space for the hairstylist's professional suggestions.
Bahasa Abstract
Penelitian ini bertujuan menjelaskan permintaan layanan penataan rambut di salon kecantikan Jepang dengan berfokus pada penggunaan penanda verbal dan nonverbal. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif. Sumber data berupa percakapan video antara pelanggan dan penata rambut pada kanal YouTube NARIKYO. Hasil analisis mengungkapkan 128 data permintaan yang direalisasikan melalui dua strategi, yaitu 77 strategi verbal dan 51 strategi nonverbal. Pada strategi verbal, bentuk desideratif (seperti -tai dan -hoshii) merupakan bentuk yang paling dominan dengan 33 data, diikuti bentuk deklaratif (seperti -ga ii, omakase de, dan bentuk kalimat tak selesai) sebanyak 17 data, serta bentuk sematan (seperti -you na, -mitai na, dan -hou ga ii) sebanyak 16 data, sedangkan bentuk imperatif (-kudasai) hanya ditemukan sebanyak 1 data. Pada strategi nonverbal, gestur deiktik (menunjukkan layar ponsel atau menirukan bentuk rambut) merupakan yang paling sering digunakan dengan 24 data, diikuti gestur ikonik (menyentuh atau menunjuk bagian rambut) sebanyak 21 data, dan gestur beat sebanyak 3 data. Pelanggan salon rambut di Jepang cenderung menghindari penggunaan bentuk imperatif secara langsung untuk menjaga kesantunan interaksional, mengurangi kesan memaksa, serta memberikan ruang bagi penata rambut untuk menyampaikan saran profesionalnya.
References
Amalia, A. (2024). Tindak Tutur Penolakan Dalam Keluarga Pada Drama Kyou Mo Iyagarase Bentou : Kajian Pragmatik. KIRYOKU, 8(2), 355-363. https://doi.org/10.14710/kiryoku.v8i2.355-363
Aryanto, Bayu. (2020). Characteristic of Directive Speech Acts in the Dissemination of COVID-19 Mitigation Information in Japan. Japan Research on Linguistic, Literature and Culture, 3(1), 13-26. 10.33633/jr.v3i1.4424
Dunkley, Dunkin. (1994). Directives in Japanese and English. The Journal of Aichi Gakuin University, Humanities and Science, 42(1). 121-140
Fansuri, F. (2025, February 27). Jumlah Pekerja Indonesia di Jepang Naik 39,5 Persen, Ini Asal Negara yang Terbanyak. Republika Online. https://ekonomi.republika.co.id/berita/ssbfa3468/jumlah-pekerja-indonesia-di-jepang-naik-395-persen-ini-asal-negara-yang-terbanyak
Filia. (2017). Wakimae dalam Performa Stimulus-Respons Bahasa Jepang pada Percakapan Tayang Bincang Televisi. Universitas Indonesia. Disertasi [tidak diterbitkan].
Hall, E.T. (1976). Beyond Culture. Anchor Books, New York.
Hirotoshi, Yagihashi. (2009). Why Can a Japanese Unagi-Sentence Be Used in Request?. Lodz Papers in Pragmatics, 5(1), 227-240. 10.2478/v100160090014x
Hoarlache A-S. (2022). Negative Request Within Hair Salons: Grammar and Embodiment in Action Formation. Frontiers in Psychology. 12. DOI: 10.3389/fpsyg.2021.689563
McNeill. (2005). Gesture and Thought. University of Chicago Press: London NARIKIYO. (n.d.). Shorts [Saluran YouTube]. YouTube. Diakses 29 Agustus 2025, dari https://www.youtube.com/@narikiyo8792/shorts
Oshima & Llewellyn. (2024). Making the cut: the embodiment of experience in hair salons. Marketing Theory. 24(4). DOI: 10.1177/14705931231209659.
Puspapertiwi, E. R. (2024, March 20). Tergiur Gaji Rp 18 Juta, TKI di Jepang Melonjak 3 Kali Lipat. KOMPAS.com. https://www.kompas.com/tren/read/2024/03/20/183000465/tergiur-gaji-rp-18-juta-tki-di-jepang-melonjak-3-kali-lipat
Rasul. (2023). Literacy as a Social Practice: Mapping out Multimodal Literacy Practice in Middle Class Beauty Salons. Human Nature Journal of Social Sciences. 4(2).
Saigo, Hideki. (2011). The Japanese Sentence-Final Particles in Talk-in-Interaction. John Benjamins Publishing Company: Amsterdam.
Schegloff, Emanuel A. (1984). On some gestures’ relation to talk. University of California: Los Angeles.
Tensai International Indonesia. (2025, December 12). Tantangan Pekerja SSW Indonesia di Jepang: Jalan Menuju Karir Global. Kursus Bahasa Jepang | PT Tensai International Indonesia | Karawang. https://www.kursusbahasajepang.co.id/2025/10/tantangan-pekerja-ssw-indonesiadi,html
Weblio Kokugo Jiten. (n.d.). Bassari. Pada kamus weblio.jp. Diakses 19 April 2024 dari https://www.weblio.jp/content/%E3%81%B0%E3%81%A3%E3%81%95%E
3%82%8AWWWJDIC. (n.d.). Maku. Pada kamus wwwjdic.org. Diakses 9 Oktober 2025, dari https://www.edrdg.org/cgi-bin/wwwjdic/wwwjdic?1E
Recommended Citation
Rafa, Kirana Insyafira and Filia, Filia Dr.
(2026)
"HAIRDRESSING SERVICE REQUEST IN JAPANESE,"
International Review of Humanities Studies: Vol. 11:
No.
2, Article 16.
DOI: 10.7454/irhs.v11i2.1489
Available at:
https://scholarhub.ui.ac.id/irhs/vol11/iss2/16
Included in
Anthropology Commons, Art and Design Commons, Creative Writing Commons, Cultural Heritage Law Commons, Education Law Commons, Film and Media Studies Commons, History Commons, Intellectual Property Law Commons, International and Area Studies Commons, Legal Writing and Research Commons, Linguistics Commons, Museum Studies Commons, Philosophy Commons, Urban Studies and Planning Commons
